Seorang pahlawan.
Yap, negeri ini butuh setidaknya satu orang yang mampu menyelamatkannya dari segala masalah yang datang bertubi-tubi. Tapi kebanyakan dari kami hanya menunggu datangnya seorang pahlawan itu, kita butuh tindakan nyata tapi ketika hal itu dimulai berbagai halangan sudah menghalangi niat kami.
Kami dianggap kekanak-kanakan dan naïf ketika sekelompok orang berkostum berlari menerjang terpaan badai, mereka bilang fantasi orang barat telah menghancurkan pikiran jernih orang timur.
Seorang pahlawan pernah menulis sebuah kegelisahanya kepada warga dunia:
Seluruh negeri menyebut namaku, mereka rela menebar bunga untuk mengharumkan langkahku. Sebagai imbalannya mereka memintaku untuk menjadi pahlawan mereka, pahlawan yang hanya akan dilupakan ketika sebuah batu nisan tertuliskan namaku.
Namun di balik kedok heroik ini aku hanyalah seorang pria biasa yang punya 1001 masalah yang bahkan tidak bisa aku selesaikan, aku rapuh dari dalam namun tampak perkasa di luar. Aku hadir kedunia ini bagai boneka tangan yang di paksa memainkan peran yang kubenci, seorang musuh abadi pernah menanyaiku dengan pertanyaan aneh namun masuk akal: ”kenapa aku harus menjadi pahlawan jika aku sendiri bahkan tidak bisa menyelesaikan masalahku?”
Mereka berkata dunia membutuhkanku, setiap tetes keringat dan darah yang kukeluarkan adalah anugerah dari sang pelindung. Nyatanya, aku juga sama seperti manusia yang lainnya, butuh waktu untuk sendiri namun mereka memanggilku tanpa perduli beberapa jam hidupku yang aku buang untuk sekedar menolong seekor kucing yang terjebak di atas pohon. Aku tidak perduli seberapa egoisnya aku sekarang, lagipula apakah mereka pernah memikirkan diriku?
Birdwar
Namun kini pahlawan kebanggaan kami itu menghilang, bukan karena serbuan alien atau bencana besar. Ia ditemukan bunuh diri di dalam sebuah rumah kecil yang sederhana, tidak ada orang yang percaya ketika topeng tua itu dibuka bahwa pahlawan super mereka hanyalah seorang tukang bubur yang sudah tua.
Tidak selamanya seekor anjing akan terus patuh kepada tuannya, mereka juga butuh kebutuhan sendiri. Namun, kota terkutuk ini telah berhasil menghacurkan hatinya, menyerap semua energy jiwa hingga kering tak tersisa.
Hingga akhirnya kota ini kembali lagi tenggelam kedalam kegegelapan……
End of prolog
next, Red Merchant.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar