Siang ini matahari sedang
terik-teriknya, tidak seperti hari kemarin yang hanya menyisakan hujan, walau
demikian, teriknya bukan main, seolah kita sedang berdiri didepan oven raksasa.
Cuaca sedang ekstrim pikirku. Tapi toh, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini.
Hanya saja aku benci berkeringat, membuat kemeja yang repot-repot tadi pagi aku
setrika menjadi basah dan tidak segar lagi.
“Yo, Ryo!!! Apa kau lihat koran pagi ini?” teriak seorang
pria di belakangku.
“Tentang apa?“ tanyaku kepada Andi, rekan kerjaku.
“Kecelakaan di jalan Kartapura, bulan ini sudah yang kelima
kalinya.”
Bagiku berita kecelakaan seperti
itu sudah sering kudengar, membuatnya sangat membosankan untuk di simak. Namun
hal ini berbeda, karena jalan itu dulunya sering aku lewati jika ingin pergi ke
kantor atau sekedar jalan-jalan sore, namun karena suatu peristiwa, jalan itu
terus memakan korban, sialnya hal itu membuat aku harus sedikit memutar lewat
jalan lain.
“Oh, jalan itu minta tumbal lagi toh?“ jawabku sekenanya.
“Serius kawan! Lima itu bukan jumlah yang sedikit, jika
tidak ditindak lanjuti maka korbannya akan terus bertambah.”
Andi terus ngotot, membesar-besar berita itu. Seakan-akan tidak ada berita
lain yang lebih heboh. Aku hanya terus mengangguk saja ketika Andi mengakhiri kalimatnya
dengan kata “iyakan?“ atau semacamnya hingga bicaranya tidak berhenti. lalu
sebuah pertanyaan dilemparkannya bagai kue ulang tahun yang lengket dan tidak
membuatku nyaman.
“Bagaimana kabar Aya?“
“Ngapain sih nanya si Aya segala?“ tanyaku cemberut.
“Ayolah kawan, kami sudah lama tidak melihatnya, si peri
kecil itu.”
Peri kecil benakku, coba kuingat
lagi kenapa ia bisa disebut demikian. Ah, mungkin karena tubuhnya yang mungil
dan kelihatan seperti anak sekolahan walau umurnya tidak berbeda jauh denganku
atau karena tawanya yang renyah bagai tawa peri. Entahlah, kelihatannya aku
sudah lupa dengan hal itu.
“Kau pasti beruntung punya pacar yang imut itu Bro.” Puji
Andi.
“Kenapa kita tidak membicarakan kecelakaan yang ada di koran
saja, berhentilah menggodaku” kataku yang sudah mulai tidak nyaman ketika ada
yang mulai menyinggung masalah Aya.
Kami pun mulai mengobrol sampai
sore tentang berita itu, walau terpaksa, namun itu lebih baik daripada membahas
si membosankan Aya.Panjang umur
memang si Aya ini pikirku, ketika aku
tidak berniat membicarakannya Handphoneku terus membunyikan isarat pesan,
dengan malas tanganku membuka pesan itu, seperti biasa isinya tentang menanyakan kabar dan seterusnya.
Aku tidak menjawabnya, karena entah berapa ribu pesan seperti
ini terus berdatangan. Aku sudah bosan.
Hari sudah mulai sore saat Andi
berhenti berbicara dan kembali ke meja kerjanya, entah sudah berapa jam kami
mengobrol, untung saja tidak ada si bos
yang biasanya langsung marah ketika melihat pegawainya tidak bekerja.
Jam pulang kantor merupakan hal
yang aku tunggu-tunggu, karena akhirnya aktivitas yang membosankan itu berakhir
juga untuk hari ini, namun kelihatanya hari ini masih belum berakhir. Masih ada
Aya yang merengek minta diajak jalan kesebuah tempat.
“Maaf, malam ini nggak bisa. Aku masih banyak kerjaan.“
ujarku berbohong kepada Aya yang berada di ujung telepon.
“Ya udah.“jawabnya lirih “tapi malam minggu bisa, kan?”
tanyanya lagi seolah tidak mau menyerah.
“Aku usahakan deh.“jawabku meyakinkan.
“Iya, sudah dulu ya Hun,
good night....”
“Yoh....” jawabku singkat sambil menutup telepon genggamku.
Malam itu di rumah kontrakanku.
aku melemparkan diriku di sofa kecil yang empuk. Lepas sudah beban hari ini
pikirku, hanya ada ketenangan dan lelah saja yang tersisa, membuatku tidak
tahan dengan rasa ngantuk yang begitu nikmatnya dan entah sudah berapa lama
mataku terpejam.
...
Kuseduh secangkir teh hangat pagi
itu. Badanku sudah lebih segar karena malam tadi aku tidur dengan nyenyaknya,
di luar jendela sudah banyak anak-anak sekolah berlalu-lalang, beberapa
diantaranya ada yang diantar oleh orang tuanya atau berangkat sendiri, si paman
sayurpun tengah sibuk dengan pesanan ibu-ibu yang ramai menyerbu dagangannya.
SMS Aya pun seakan-akan tidak
pernah bosan-bosannya mendatangi telepon genggamku pagi ini. isinya biasa,
tentang ucapan selamat pagi dan semacamnya. Entah kenapa ia tidak pernah bosan
melakukan itu pikirku.
Aku mencoba mengingat hari apa
hari ini, melihat anak sekolah yang mengenakan baju training, ini pasti hari Jum’at pikirku, aku masih punya waktu satu
hari untuk memikirkan alasan untuk menolak ajakan Aya.
Masih terlalu pagi untuk pergi
kekantor pikirku saat melihat jam yang menunjukan pukul 05:57, kucoba untuk melihat
kabar dunia melalui TV tuaku, sebelumnya tadi sempat ku dengar para ibu-ibu
mengoceh tentang kecelakan di jalan Kartapura.
Seperti biasa berita pertama
hanya diisi oleh berita koruptor yang menghabiskan dana milyaran dari negara,
yah, itu sudah biasa di negara yang bobrok ini dan seperti sinetron, kasus
koruptor ini tidak kunjung beres dan selalu terupdate
dengan pemain yang baru, memangnya uang sebanyak itu masih kurang untuk memeras
negara ini kutukku.
Hingga akhirnya sebuah berita
membuatku terbelalak terkejut, padahal kemarin aku menganggap berita ini
biasa-biasa saja tapi jika ada sebuah stasiun TV yang meliput berita ini
berarti kejadian ini sudah menjadi berita Naional.
“Kecelakaan di jalan Kartapura yang terus bertambah---” ujar
suara pembawa acara yang selebihnya tidak kudengar, aku hanya sibuk mempelototi
mayat korban dari kejadian itu, aku kenal wajahnya namun butuh beberapa detik
untuk mengingat nama sang korban hingga akhirnya otakku pun memberikan jawaban
yang sangat mengejutkan, jantungku rasanya hampir meloncat keluar ketika aku
sadar bahwa sang korban adalah teman SMA ku yang rumahnya tidak jauh dari
rumahku.
“Ini semakin gawat!” benakku.
Di kantor. Seperti biasa si Andi sudah menghandangku dengan
selembar koran yang kelihatannya masih
baru, koran itu benar-benar selembar dan entah dari mana ia mendapatkannya.
“Sudah lihat berita hari ini?“ tanyanya.
“Belum“ jawabku berbohong.
“Parah kawan, kini kecelakaan itu menjadi berita nasional!!!“
ujarnya bersemangat.
Aku sedikit mengacuhkannya dengan
terus berjalan menuju meja kerjaku, tapi Andi tidak ambil pusing, ia terus
membuntutiku sambil terus mengoceh. Pagi itu pun rekanku yang lain banyak yang
ribut akan masalah ini, namun entah kenapa, aku seakan-akan lupa atas diriku
yang terkejut tadi pagi dan sekarang kembali menganggap biasa-biasa saja berita
itu.
“Jalan itu memang sepi kalau malam, tapi bukannya dulu jika
matahari sudah terbit jalan itu akan sama dengan jalan yang lainnya.“ kata
Andi.
“Tapi sejak munculnya bayangan yang aneh itu orang enggan
melewatinya dan entah kenapa katanya, bayangan itu suka memakan jiwa
seseorang......itu, kan kalimatmu selanjutnya?“ ujarku.
“Bukan Cuma bayangan, tapi pohon tua itu juga mengerikan,
belum lagi sangat sedikit keramaian di sana membuat keadaannya sedikit angker.“
Entah kenapa aku menjadi sedikit
bersemangat setelah memulai pembicaraan ini, sangat kontras dengan moodku beberapa detik yang lalu. Yah,
jalan Kartapura sendiri merupakan jalan yang baru di buat beberapa bulan yang
lalu, aku hanya sempat mencicipijalan
ini selama dua bulan hingga akhirnya berita itu dicetak di koran lokal.
Aku sendiri malas untuk percaya
dengan takhayul, tapi benar, pohon beringin tua itu kadang membuat bulu kudukku
berdiri, ada sepasang mata yang seakan-akan mengawasiku di balik lebatnya
dedaunan, pohon beringin itu sendiri bukan satu-satunya pohon yang ada, karena
ada hutan kecil di belakangnya. Oh, aku lupa bilang kalau daerahku adalah daerah
perbukitan di pinggiran kota.
Selain jalan Kartapura masih ada dua jalan alternatif yang
dibuat pemerintah setempat, hanya saja tidak sebagus dan secepat jalan
Kartapura.
“Woy!! Bengong terus, mikirin Aya ya?“ goda Andi.
“Ck..” jawabku singkat sambil beranjak dari tempat dudukku.
“Mau kemana?“ tanyanya.
“kamar kecil....mau ikut?“
“Ach...si abang“ jawabnya dengan gaya yang menjijikkan.
Aku berbohong ke Andi, padahal
aku hanya ingin menghindari topik pembicaraan yang membosankan itu dan pergi ke
atap kantorku. Disana sepi karena jarang ada yang datang kesana, tapi menurutku
tempat ini sempurna karena ketenangan dan udara yang sejuk membuat moodku kembali naik.
Hiruk pikuk kota di bawah sana
terasa kontras dengan di atas sini, mobil yang berbagai bentuk dan jenis
berseliweran kesana kemari, pejalan kakipun bagaikan semut yang berjalan
berhamburan di bawah sana.”Ramai“ pikirku, berbeda dengan keadaan di atas sini,
hanya burung merpati yang menjadi temanku.
Asap mengepul dari ujung batang
rokokku dan kemudian lenyap menyatu dengan angin, menyisakan aroma yang khas. “apa
yang terjadi dengan kota ini“ benakku “benarkah kota ini telah dikutuk oleh
penghuninya yang terdahulu karena manusia merusak tempat tinggal mereka yang
damai di antara pepohonan dan perbukitan?“
“Ah, masa aku percaya dengan hal-hal yang seperti itu.....toh,
aku sudah tinggal disini sejak kecil.“
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, ternyata Aya sedang
ingin berbicara denganku.
“Ada apa?“ tanyaku pura-pura ramah.
“Lagi ngapain?“ tanyanya balik dengan suara lembutnya.
“Biasalah jam segini di kantor”
“Nanti siang sibuk nggak? Temenin aku ke toko buku dong hun”
Aku hampir tersedak asap rokokku sendiri ketika mendengar
ajakan Aya itu, masalahnya mentalku belum siap untuk menerima ajakannya.
“Mau ya?...sebentar aja kok, Cuma sampai istirahat makan
siang selesai doang kok.” rengeknya seperti anak manja.
“Lho? Kan biasanya ke toko bukunya bareng dengan Vina dan
Nandya?“ elakku.
“Mereka lagi nggak masuk, katanya sedang sakit“ jawabnya.
“Masa dua-duanya sakit?“
“Iya. mau ya hun?
“ rengeknya lagi.
“Kita lihat nanti siang ya, soalnya kerjaanku lagi banyak
nih. Nanti kuhubungi lagi kalau memang senggang.“ itulah jawaban terbaikku,
masa bodoh mau senggang sekalipun aku tidak berminat menghubunginya.
“Ok. Sampai nanti ya....love you!!”
Kalimat terakhir dari Aya itu
membuatku senang, tapi tetap saja keringat dinginku mengucur deras. Masalahnya
aku malas meladeni si Aya ke toko buku yang biasanya lama walaupun hanya untuk
membeli satu buku. ”Semoga saja aku bisa kabur
kali ini“ benakku.
...
Tinggal beberapamenitlagi sebelum
istirahat siang di kantorku, belum ada tanda-tanda dari Aya seperti pesan “Jangan
lupa ya” dan semacamnya, ini hal bagus pikirku. Bisa jadi dia lupa atau
semacamnya, setidaknya aku punya alasan jika dia bertanyakenapa nggak datangdan pertanyaan lain yang membuatku merasa
bersalah.
Tepat pukul 12. Beberapa rekan
kerjaku pun berbondong-bondong meninggalkan meja kerjanya, beberapa memilih
tinggal dan makan makanan yang sengaja mereka bawa dari rumah. Perutku mulai
mengeluh ketika sebuah wadah plastik dibuka dan menyebarkan aroma makanan yang
menggiurkan, si Andi hanya tersenyum kecil mendengar bunyi perutku.
“Nggak makan siang?“ tanyanya sambil menyuapkan sesendok
nasi ke mulutnya.
“Mau kok, ini udah mau keluar“ jawabku sambil mengangkat
badanku dari kursi kerjaku.
“Good luck ya!!“
Sial dari mana si Andi tahu kalau
aku sedang menghindari si Aya, mungkin hanya asal tebak saja benakku
menenangkan diri. Aku segera berlari ke tempat parkir di mana aku meninggalkan
motor bututku, di sini sudah mulai sepi. Hanya menyisakan lahan kosong.
Hatiku serasa melayang terbang.
Apa yang kurencanakan sudah terlaksana, yaitu kabur dari ajakan Aya untuk hunting buku, tinggal beberapa meter lagi
hingga akhirnya sampai di tempat aku meletakan motorku. Sipp!! Motorku ada
dibalik pos satpam yang menghalangi pandangan. Seketika kulihat senyum sangar
pak satpam sambil menyeruput kopi
hangat favoritnya.
Namun belum juga aku memahami
maksud dari senyuman itu, tiba-tiba alasan itu muncul sendiri di depan mataku.
Sial!! Ternyata Aya sudah menunggu dari tadi sambil menduduki motorku. Hancurhanya itu yang ada di dalam
otakku.
“Hai, hun!!“ ujarnya bersemangat.
“sudah lama nunggu?“ tanyaku murung sambil mengangkangi jok
motorku.
“Lumayan, berangkat yuk....” dengan nada yang terdengar
imut, tetap saja ini akan membosankan.
Di perjalanan Aya banyak bercerita mulai dari kegiatannya
pagi ini dan semacamnya. Aku hanya menjawab dengan kata oh, mirip dengan jawabanku saat mendengarkan ocehan si Andi.
Jarak antara kantorku dan toko
buku itu tidak begitu jauh, ditambah dengan mengendarai motor hanya butuh
beberapa menit saja sampai di depan toko buku. Aya langsung meloncat dari motor
dan berlari kecil masuk kedalam toko itu.
Kami menuju baris di mana ada
tulisan novel di atas rak buku, berbagai macam judul dan penerbit menghiasi rak
buku itu. Aya kelihatan bingung memilih judul, satu persatu buku novel itu di
amatinya, sesekali ia berguman ketika membaca ulasan singkat yang ada di balik
buku, aku lupa apa namanya.
“Hmmm....yang ini ceritanya menarik“ komentar Aya.
“Kenapa nggak langsung dibeli?“ kataku ingin segera pergi
dari tempat ini.
“Hihihihihi....tapi tetap aja bukan buku yang aku cari“ ujar
Aya dengan tawa yang mereka sebut
tawa peri.
Teman sekantorku banyak yang
menyebutnya demikian ditambah dengan hobinya membaca novel fantasy menjadikan
istilah peri begitu lekat dengan sifatnya yang imut. Yah, entah musibah apa
yang membuatku mengajaknya ke kantorku dan memperkenalkannya dengan mereka,
yang jelas sekarang mereka sering menggodaku karena sudah mengencani gadis yang
polos. Tapi apakah itu dosa?
Aku sudah mengenal Aya saat
mengenyam pendidikan di bangku SMA, saat itu dia adalah adik kelasku. Aku yang
saat itu hobi dengan game yang bertema fantasy menjadi tertarik dengan dengan
Aya yang menurutku mirip dengan dengan salah satu karakter game kesukaanku.
Hampir tiap hari aku mematai-matainya agar tahu banyak hal tentang dirinya.
Mulai nama, alamat rumah, bahkan sampai alamat Facebook-nya.
Konyol memang. Hingga akhirnya
aku dapat berbicara dengannya pada saat acara kelulusanku, aku sempat
menyatakan perasaanku dengannya, wajahnya memerah seketika. aku menjadi cemas
akan ditolaknya. Namun jawabanya memuaskan, dia menerimaku dan bahkan dia
memberikan senyum terindahnya.
Masa yang indah itu kian memudar,
entah karena aku yang sudah bosan atau semacamnya. Tapi akankah aku mencari
pengganti Aya? Tidak sebelum aku memutuskan hubunganku dulu dengannya, tapi itu
sangat sulit, aku belum siap melepaskan tawanya, ditambah seberapapun aku
mengacuhkannya namun Aya adalah gadis yang setia dan entah apakah aku akan
menemukan gadis yang sesetia Aya diluar sana.
Maksudku, lihat gadis-gadis jaman
sekarang, kesetiaan mereka sangat mahal, kita harus rutin memberikan apa yang
dia mau agar mendapatkan kesetiaannya, sedangkan Aya berbeda. Dulu aku sempat
meninggalkanya saat membeli buku seperti ini karena bosan menunggu. Dia
seharian menungguku bahkan sampai toko
ini tutup. Teleponnya tidak kuangkat bahkan pesan singkatnyapun tidak
kuhiraukan.
Besoknya dia hanya tersenyum
seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Jujur itu membuatku menyesal, aku kira aku
akan mempunyai kesempatan untuk berpisah dengannya karena ia marah, tapi itu
membuatku merasa menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.
“Arggh!! Ini semua membingungkan!!!“ teriakku tanpa
menghiraukan tempat dimana aku berdiri, banyak pengunjung yang memandangiku
dengan berbagai ekspresi. Aku malu setengah mati atas diriku yang lepas kontrol
karena memikirkan masa laluku.
“Kacau“ hanya itu yang ada dibenakku.
Aya juga demikian kagetnya dengan
pengunjung lain toko ini, namun wajah keheranannya langsung berubah menjadi
senyuman. Ia seakan-akan mengetahui masalahku, tapi semoga saja tidak! Lagi pula
Aya bukan paranormal atau semacamnya.
“Bingung kenapa hun?“ tanyanya.
“Ah. Nggak, biasalah kerjaan dikantor“ ujarku berbohong
untuk kesekian kalinya.
Yap, entah sudah berapa banyak dosa yang telah kulakukan ke
Aya dan entah akan berapa lama dia tetap sesabar ini.
“Ke kasir yuk...bukunya sudah dapat nih.“ kata Aya sambil
memegang sebuah buku Novel pilihannya.
“Ok.“
...
Besoknya. Seperti biasa aku
sedang mengerjakan beberapa laporan yang harus diselesaikan hari ini, namun
konsentrasiku buyar seketika saat Andi datang dan mulai mengoceh tentang
kegiataanku bersama Aya kemarin, aku kira itu bukan hal yang besar jika
mengantar Aya ke toko buku dan agak telat saat kembali ke kantorku.
Namun beberapa rekan kerjaku
kelihatannya benar-benar cemburu melihatku jalan dengan gadis yang menurut
mereka sempurna. Semoga saja mereka tidak membentuk grup yang aneh-aneh untuk
menjatuhkanku atau semacamnya.
“Ada berita terbaru dari kecelakaan itu?“ ujarku berusaha
mengganti topik.
“kelihatannya belum ada. Bahkan polisi pun belum akan melakukan
tidakan atas kejadian ini“
“Yeah. Mungkin mereka terlalu sibuk menilang kendaraan dan
semacamnya“
“Dan semacamnya? Kenapa kau tidak bisa menghilangkan
kebiasaan burukmu itu Roy?. Apakah itu karena memang sifatmu yang terlalu malas
berbicara panjang lebar dan semacamnya?“ sindir Andy yang sok mengkritikku
seolah ia tidak punya kebiasaan yang buruk.
“Uh-huh. Bagaimana dengan kau? Dasar ibu-ibu!!“ aku sedikit
menaikkan nada suaraku.
Andy terdiam sejenak. Terlihat mukanya sedikit agak memerah,
aku yang merasa bersalah karena mengejeknya juga ikut terdiam.
“Wahahahahaha!! Ternyata kita sama-sama punya kebiasan yang
buruk ya Roy?“ tawa Andi menggelegar, membuatku sedikit terkejut dan entah
kenapa malah ikut tertawa.
“Hahaha, tapi di cerita ini, itu disebut ciri khas“ ujarku
berbicara sekenanya.
“Baiklah, Aku harus kembali kemejaku dulu, ada beberapa
tugas yang harus kukerjakan dan
semacamnyA” sindir Andy lagi.
“ Ya....“ hanya itu jawabanku ketika telepon genggamku
berbunyi. Sial! Ternyata Aya mengirim pesan singkat yang isinya mengingatkanku
untuk tidak melupakan janjiku malam ini. Ternyata malam ini adalah malam
minggu.
Aya hanya berpesan untuk
menunggunya saja dirumahku dan akan menjemputku dengan motor barunya yang ia
beli beberapa waktu lalu, namun karena beberapa sebab ia tetap menyimpannya
tanpa menggunakannya sekalipun. Aku sedikit khawatir dengan cara berkendaranya
yangkurasa masih amatir, namun ia
tetap memaksa ingin memamerkan motor barunya itu seolah-olah aku akan takjub
saja dan semacamnya.
“Terserah kau sajalah“ balasku.
“Thank’s, Hun!!“ balasnya beberapa detik kemudian.
Aku tidak membalasnya. Karena aku yakin akan jadi panjang
jika aku balas lagi. namun entah kenapa ada sesuatu yang lupa aku beri tahu ke
Aya....
...
Malamnya. Aya berjanji akan
menjemputku pukul 19:00, masih ada setidaknya 15 menit lagi sebelum waktu itu.
Namun kebosanan sudah menyerangku duluan, tangankupun sudah pegal menekan
tombol remot TV yang acaranya sangat membosankan semua, tidak heran hampir tiap
malam minggu banyak orang yang lebih memilih jalan-jalan daripada bersantai ria
dirumah.
Aku memang benci dengan kebosanan, padahal hidupku sendiri
sudah cukup bosan. Baik rutinitas sehari-hari dan semacamnya. tapi apa boleh
buat, itulah kehidupanku saat ini, mau tidak mau harus kujalani.
Entah setan apa yang merasukiku,
akhirnya aku menelpon Andi untuk menghilangkan kebosananku. Masalahnya Andi
adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan kebosanan karena entah darimana
informasi yang selalu diocehkannya selalu panjang tak berujung.
“Halo?“ sapanya dari di ujung sana.
“kau lagi apa kawan?“
“Oh, kau Ryo.....apa kau sudah dengar berita baru dari jalan
Kartapura?“ ujar Andy dengan suara yang
terdengar sedikit bersemangat.
“Memangnya ada apa lagi?“
“Sekarang korbannya sudah bertambah 1 lagi!.“ terdengar
suara Andi mulai bergetar “Aku tidak tahu berita
pastinya, tapi tadi seorang
teman menceritakan hal ini kepadaku“
“Benar-benar parah kalau begitu, menurutmu siapa korbannya
kali ini?“
“Perempuan. Kalau tidak salah ia mengendarai sebuah motor,
tapi aku tidak tahu detailnya.“
Tiba-tiba hatiku menjadi tidak enak, semoga bukan hal yang
aku yang bayangkan yang akan terjadi.“ Kau sedang ada dimana?“ tanyaku.
“Aku sedang menuju kelokasi, kira-kira 15 menit lagi aku
sampai.“
“Oke!!“ hanya itu jawabanku, sebelum menutup telepon.
Jam dindingku sudah menunjukan pukul 19:05, lewat lima menit
dari jadwal yang sudah di janjikan Aya. Tapi hanya lima menit, belum terlalu molor
dari jadwal yang Aya janjikan.
Namun. Kecemasanku mulai
menjadi-jadi 25 menit kemudian, Aya tak kunjung datang, aku bahkan menghubungi
telepon genggamnya beberapa kali namun hasilnya nihil. Tidak biasanya ia
terlambat, apalagi malam ini adalah malam yang ia tunggu-tunggu, Aku harap ia
baik-baik saja.
Ketika aku hendak mencoba menghubungi Aya lagi, tiba-tiba
telepon genggamku berbunyi, aku langsung mengangkatnya, tidak peduli siapa itu
dan kuharap itu adalah Aya.
“Halo!!!“ ujarku setengah berteriak.
“Halo Ryo, ini Andi....” suara Andi bergetar ketika
ucapannya terputus.
“Ada apa ndi?“ tanyaku tidak sabar “apa kau sudah melihat
korbannya?”
“Ya....” Andi seakan-akan tidak sanggup untuk melanjutkan
kalimatnya.
“Siapa!!” aku mulai kehilangan kesabaran.
“Maaf Ryo.....tugasku hanya sampai disini saja.”
“Tugas? Apa yang kau bicarakan kawan!!”
“..................”
Telepon dari Andi terputus. Aku mulai
khawatir di dalam kebingunganku, apa yang dimaksud Andi barusan, sebelumnya aku
tidak pernah sekhawatir ini, apakah ini pertanda buruk. Aku harus segera
melihatnya sendiri ke tempat terkutuk itu. Namun, belum juga aku memegang kunci
motorku, terdengar suara ketukan dari balik pintu. Ketukan pintu itu terdengar
aneh, sedikit berirama namun lemah. Tapi sudahlah, aku hanya perlu mengusir
orang yang ada dibalik pintu itu. Toh, waktu kedatangannya kurang tepat.
“Tunggu sebentar!!” ujarku sedikit berteriak.
Aku sedikit ragu untuk membuka
pintu saat tanganku menyentuh ganggangnya, ada perasaan dingin yang menjalari
tubuhku dalam sekejap dan hilang seakan itu hanya imajinasiku saja, tapi
mustahil. Bulu-bulu halus ditanganku berdiri semua.
Ah. Masa bodoh, pikirku. Aku
sudah tidak punya waktu untuk ragu, aku harus segera memastikan siapa korban
kecelakaan itu, dengan mantap kuputar ganggang pintu itu. Masa bodoh dengan
imajinasi atau kenyataan.
mataku terbelalak melihat tubuh
kaku dihadapanku, mukanya begitu kelam dengan pandangan mata yang semu.
Wajahnya sangat kukenal namun ekspresi itu sama sekali tidak pernah kulihat.
Tubuhku bergetar seketika, aku bahkan tidak mampu mengatur napasku.
“Aya!!” akhirnya aku membuka suara.
“Maaf aku terlambat Hun....” ucapnya lirih.
“ A...apa yang terjadi?”
“Dia sudah menjemputku Hun...ini sudah saatnya aku pergi.”
“Dia siapa?” ujarku bingung “apa maksudmu pergi?.....”
Belum sempat Aya menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba sosok
berjubah yang entah dari mana datangnya
munculdan memotong pembicaraan kami,
sosok itu berbisik di belakang leher Aya.
“Tolong berikan sedikit waktu lagi.” Ujar Aya memohon.
“Tapi ini sudah diluar batasku, Aya. pintu itu tidak bisa
kubuka lama-lama di dunia manusia.”
Aya kemudian memandang wajahku, matanya begitu menyedihkan
membuatku ingin menangis melihatnya.
“Aku harus pergi.....Ryo” Sosok itu kemudian maju selangkah ketempat yang lebih
terang. Ia membuka jubahnya. Sosok itu tersenyum.
“Maaf kawan, kami benar-benar harus segera pergi.”
Ujar.....Andi.
Aku sudah kehabisan kalimat. Namun, Aya mencoba membuatku
tenang dengan senyum perinya.
“Ini tidak mungkin terjadi!!!” jeritku.
“Maaf Hun....aku selama ini sudah membuatmu bosan” tubuh Aya
mulai memancarkan cahaya, sementara aku hanya termenung dengan pengakuan Aya,
selama ini Aya sudah tahu kalau aku mengganggapnya membosankan.
“Tidak!! Aku yang salah karena telah mengacuhkan wanita
terbaik didunia.”
Aku memeluk erat tubuh kaku Aya,
meski demikian tubuhnya sangat hangat. Hingga akhirnya pecah menjadi partikel
cahaya kecil yang melayang pelan menjauhi tubuhku. Andi bahkan melakukan hal
yang sama, tubuhnya bercahaya sangat terang bahkan hampir menyilaukan mataku.
“Sampai jumpa....Hunny” ujar Aya yang sekarang berbentuk
bola cahaya yang sangat indah.
Kemudian cahaya itu di pegang oleh Andi dengan lembut.
“Sampai bertemu lagi kawan” ucap Andi tersenyum.
“Brengsek!! Kau Andi...kembalikan Aya!!!” jeritku memaki
mahkluk cahaya didepanku.
Namun. Ketika tanganku belum
menyentuh makhluk itu, sepasang sayap putih mengembang lebar. Yang kemudian
hanya sekali kepakan aku terpental hebat, banyak suara barang pecah di sekitarku
namun aku tidak perduli, aku mencoba bangkit kembali untuk merebut Aya. Mahkluk
itu hanya tersenyum melihatku kepayahan berdiri.
Andi sudah berjongkok dengan
posisi seperti orang yang akan meloncat, sementara aku berlari menuju
kearahnya, Cahaya itu muncul lagi, bahkan Andi mengangkat tinggi sayapnya dan
kemudian dengan sekali kepakan. Angin hebat menerpa tubuhku.
Aku terpental hingga menembus dinding dan entah mendarat
dimana, rasanya tulangku patah semua, aku sudah tidak mampu berdiri sementara
cahaya putih terus melaju menembus awan diatas sana.
...
Aku terbangun dengan sinar
matahari yang terang menyilaukan, badanku basah oleh keringat yang lengket
sementara pikiranku belum sepenuhnya kembali. Dimana ini pikirku.Perlahan
pikiranku mulai sadar. Aku mencoba mengangkat tubuhku dari tempatku terbaring,
didepanku muncul TV tuaku yang sedang menyala.
“Aya!!” ucapku saat ingatan itu mulai muncul dipermukaan.
Badanku mulai gemetar membayangkan
kejadian malam tadi, apakah aku sudah kehilangan Aya? benakku tidak percaya.
Tepat di hadapanku ia tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal, tawa itu
Lenyap seketika menjadi cahaya putih yang menyilaukan.
“Brengsek kau And---“ tiba-tiba telepon genggamku berbunyi
nyaring, seseorang mengirimiku pesan singkat.
Disitu tertulis nomor telepon....Aya!!.
Aku seakan-akan tidak percaya dengan apa yang kulihat, apa
maksud dari ini semua. Apa ada orang yang sedang mengerjaiku. Kubuka pesan
singkat itu dengan ragu.
“Ke toko buku, yuk, Hun?” hanya itu isinya tidak ada yang
lain dan entah darimana datangnya banyak panggilan masuk yang tidak kujawab.
Semuanya dari Aya.
Aku sudah tidak perduli dengan
pakaianku yang acak-acakan, motor tuaku aku pacu secepat mungkin membelah jalan
raya menuju ketempat yang dijanjikan Aya, katanya ia janji akan menungguku
didepan kantor tempatku bekerja.
Beberapa pengendara lain sempat
mengumpatku karena cara mengendaraku yang ugal-ugalan, bahkan ketika aku hampir
saja menabrak sebuah mobil yang muncul dari persimpangan jalan lain, tapi aku
seakan tidak perduli, aku terus saja melaju.
Hingga akhirnya aku tiba di
kantor tempatku bekerjatapi aku tidak melihat Aya saat aku memarkirkanmotorku di depannya, mataku berusaha memindai tiap wajah
yang ada di depanku mencari wajah seorang gadis yang kurindu.
“Kok, lama sih Hun?” suara merdu itu muncul di belakangku,
Aya tersenyum dengan wajah manisnya yang entah bagaimana aku menggambarkanya.
Di toko buku, Aya sibuk mencari
Novel kegemarannya. Sesekali ia minta pendapatku yang tentu saja kujawab dengan
serius. Tadi Aya sempat kaget melihatku teriak histeris sambil memeluknya, aku
terus menerus mencubit tanganku sejak saat itu, berharap ini bukan mimpi.
“Nanti habis ini makan siang, yuk?” ujarku.
“Apa nggak masalah?” Tanya Aya.
“Masalah kenapa?...”
“Yah, kan biasanya kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu”
Ujarnya heran.
“Tenang, mulai sekarang aku akan mengurangi kesibukanku demi
kamu”
“hihihi, kok jadi Aneh sih?”
“Entahlah, kayanya ada yang menyadarkanku akan sesuatu.”
“Eh, tadi Andi ada nitipin surat tuh.” Ujar Aya sambil memberiku
sebuah kertas yang dilipat sembarangan.
Tidak biasanya pikirku, biasanya Andi akan menemuiku secara
langsung atau menghubungiku lewat telepon. Tapi sudahlah, mungkin ia sedang
sibuk dan semacamnya.
Seminggu berlalu sejak mimpi
buruk itu, kini hubunganku dengan Aya mulai membaik, aku sudah membuang
pemikiran negatif itu. Yah, kehilangan Aya bukanlah hal yang pernah aku
bayangkan, tidak dengan cara demikian.
Oh iya. Mengenai tragedi
JL.kartapura, polisi akhirnya menemukan penyebab terjadinya kecelakaan itu.
Ternyata bayangan yang mengerikan itu hanyalah seekor Orangutan biasa yang
tersesat jauh dari habitatnya. Lucunya, karena hanya berani keluar malam hari
orang-orang mengiranya sebagai hantu atau roh yang suka memakan jiwa manusia,
karena saking percayanya akan anggapan ini orang akan mengalami ketakutan
secara berlebihan sehingga kehilangan konsentrasi dan terjadilah kecelakaan.
Menggelikan memang, tapi sudahlah secerdik-cerdiknya ras
manusia tetap saja mampu dibodohi oleh perasaan sendiri.
Kini aku dan Aya sedang
merencanakan liburan musim panas, menurut rencana kami akan pergi liburan ke
sebuah tempat yang indah, lengkap dengan penginapan yang menghadap ke arah
laut. Kadang aku berpikir, darimana aku bisa punya uang sebanyak itu yang hanya
sebagai pegawai kantoran biasa ini.
Untuk Andi, akhirnya aku membaca
juga suratnya setelah menyadari ia sudah tidak bekerja lagi sekantor denganku.
Yah, aku sempat terkejut ketika membacanya, mengingatkanku dengan mimpi itu
lagi. Isinya hanya tulisan pendek namun membuatku seakan-akan merinding dibuatnya.
Yap, Tuhan memang Maha segalanya.
Maaf kawan. aku belum
bilang sebelumnya tentang pekerjaanku yang asli, tapi jujur aku iri kau memiliki Aya. Jaga gadis itu bro, jarang ada peri di jaman sekarang......kalau ada
kesempatan mungkin kita akan bertemu lagi. Yah, tentu saja di tempat lain yang
lebih indah.
P.S: Di dunia sana
baik-baik ya. Ingat,“mimpi” itu adalah peringatan!
Andi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar