Senin, 15 Juli 2013

Gelak tawa peri


Siang ini matahari sedang terik-teriknya, tidak seperti hari kemarin yang hanya menyisakan hujan, walau demikian, teriknya bukan main, seolah kita sedang berdiri didepan oven raksasa. Cuaca sedang ekstrim pikirku. Tapi toh, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Hanya saja aku benci berkeringat, membuat kemeja yang repot-repot tadi pagi aku setrika menjadi basah dan tidak segar lagi.

“Yo, Ryo!!! Apa kau lihat koran pagi ini?” teriak seorang pria di belakangku.

“Tentang apa?“ tanyaku kepada Andi, rekan kerjaku.

“Kecelakaan di jalan Kartapura, bulan ini sudah yang kelima kalinya.”

Bagiku berita kecelakaan seperti itu sudah sering kudengar, membuatnya sangat membosankan untuk di simak. Namun hal ini berbeda, karena jalan itu dulunya sering aku lewati jika ingin pergi ke kantor atau sekedar jalan-jalan sore, namun karena suatu peristiwa, jalan itu terus memakan korban, sialnya hal itu membuat aku harus sedikit memutar lewat jalan lain.

“Oh, jalan itu minta tumbal lagi toh?“ jawabku sekenanya.

“Serius kawan! Lima itu bukan jumlah yang sedikit, jika tidak ditindak lanjuti maka korbannya akan terus bertambah.”

Andi terus ngotot, membesar-besar berita itu. Seakan-akan tidak ada berita lain yang lebih heboh. Aku hanya terus mengangguk saja ketika Andi mengakhiri kalimatnya dengan kata “iyakan?“ atau semacamnya hingga bicaranya tidak berhenti. lalu sebuah pertanyaan dilemparkannya bagai kue ulang tahun yang lengket dan tidak membuatku nyaman.

“Bagaimana kabar Aya?“

“Ngapain sih nanya si Aya segala?“ tanyaku cemberut.

“Ayolah kawan, kami sudah lama tidak melihatnya, si peri kecil itu.”

Peri kecil benakku, coba kuingat lagi kenapa ia bisa disebut demikian. Ah, mungkin karena tubuhnya yang mungil dan kelihatan seperti anak sekolahan walau umurnya tidak berbeda jauh denganku atau karena tawanya yang renyah bagai tawa peri. Entahlah, kelihatannya aku sudah lupa dengan hal itu.

“Kau pasti beruntung punya pacar yang imut itu Bro.” Puji Andi.

“Kenapa kita tidak membicarakan kecelakaan yang ada di koran saja, berhentilah menggodaku” kataku yang sudah mulai tidak nyaman ketika ada yang mulai menyinggung masalah Aya.


Kami pun mulai mengobrol sampai sore tentang berita itu, walau terpaksa, namun itu lebih baik daripada membahas si membosankan Aya.Panjang umur memang  si Aya ini pikirku, ketika aku tidak berniat membicarakannya Handphoneku terus membunyikan isarat pesan, dengan malas tanganku membuka pesan itu, seperti biasa isinya tentang menanyakan kabar dan seterusnya.
Aku tidak menjawabnya, karena entah berapa ribu pesan seperti ini terus berdatangan. Aku sudah bosan.

Hari sudah mulai sore saat Andi berhenti berbicara dan kembali ke meja kerjanya, entah sudah berapa jam kami mengobrol, untung saja tidak ada si bos yang biasanya langsung marah ketika melihat pegawainya tidak bekerja.

Jam pulang kantor merupakan hal yang aku tunggu-tunggu, karena akhirnya aktivitas yang membosankan itu berakhir juga untuk hari ini, namun kelihatanya hari ini masih belum berakhir. Masih ada Aya yang merengek minta diajak jalan kesebuah tempat.

“Maaf, malam ini nggak bisa. Aku masih banyak kerjaan.“ ujarku berbohong kepada Aya yang berada di ujung telepon.

“Ya udah.“jawabnya lirih “tapi malam minggu bisa, kan?” tanyanya lagi seolah tidak mau menyerah.

“Aku usahakan deh.“jawabku meyakinkan.

“Iya, sudah dulu ya Hun, good night....”

“Yoh....” jawabku singkat sambil menutup telepon genggamku.

Malam itu di rumah kontrakanku. aku melemparkan diriku di sofa kecil yang empuk. Lepas sudah beban hari ini pikirku, hanya ada ketenangan dan lelah saja yang tersisa, membuatku tidak tahan dengan rasa ngantuk yang begitu nikmatnya dan entah sudah berapa lama mataku terpejam.

...

Kuseduh secangkir teh hangat pagi itu. Badanku sudah lebih segar karena malam tadi aku tidur dengan nyenyaknya, di luar jendela sudah banyak anak-anak sekolah berlalu-lalang, beberapa diantaranya ada yang diantar oleh orang tuanya atau berangkat sendiri, si paman sayurpun tengah sibuk dengan pesanan ibu-ibu yang ramai menyerbu dagangannya.

SMS Aya pun seakan-akan tidak pernah bosan-bosannya mendatangi telepon genggamku pagi ini. isinya biasa, tentang ucapan selamat pagi dan semacamnya. Entah kenapa ia tidak pernah bosan melakukan itu pikirku.

Aku mencoba mengingat hari apa hari ini, melihat anak sekolah yang mengenakan baju training, ini pasti hari Jum’at pikirku, aku masih punya waktu satu hari untuk memikirkan alasan untuk menolak ajakan Aya.

Masih terlalu pagi untuk pergi kekantor pikirku saat melihat jam yang menunjukan pukul 05:57, kucoba untuk melihat kabar dunia melalui TV tuaku, sebelumnya tadi sempat ku dengar para ibu-ibu mengoceh tentang kecelakan di jalan Kartapura.

Seperti biasa berita pertama hanya diisi oleh berita koruptor yang menghabiskan dana milyaran dari negara, yah, itu sudah biasa di negara yang bobrok ini dan seperti sinetron, kasus koruptor ini tidak kunjung beres dan selalu terupdate dengan pemain yang baru, memangnya uang sebanyak itu masih kurang untuk memeras negara ini kutukku.

Hingga akhirnya sebuah berita membuatku terbelalak terkejut, padahal kemarin aku menganggap berita ini biasa-biasa saja tapi jika ada sebuah stasiun TV yang meliput berita ini berarti kejadian ini sudah menjadi berita Naional.

“Kecelakaan di jalan Kartapura yang terus bertambah---” ujar suara pembawa acara yang selebihnya tidak kudengar, aku hanya sibuk mempelototi mayat korban dari kejadian itu, aku kenal wajahnya namun butuh beberapa detik untuk mengingat nama sang korban hingga akhirnya otakku pun memberikan jawaban yang sangat mengejutkan, jantungku rasanya hampir meloncat keluar ketika aku sadar bahwa sang korban adalah teman SMA ku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku.

“Ini semakin gawat!” benakku.

Di kantor. Seperti biasa si Andi sudah menghandangku dengan selembar koran  yang kelihatannya masih baru, koran itu benar-benar selembar dan entah dari mana ia mendapatkannya.

“Sudah lihat berita hari ini?“ tanyanya.

“Belum“ jawabku berbohong.

“Parah kawan, kini kecelakaan itu menjadi berita nasional!!!“ ujarnya bersemangat.

Aku sedikit mengacuhkannya dengan terus berjalan menuju meja kerjaku, tapi Andi tidak ambil pusing, ia terus membuntutiku sambil terus mengoceh. Pagi itu pun rekanku yang lain banyak yang ribut akan masalah ini, namun entah kenapa, aku seakan-akan lupa atas diriku yang terkejut tadi pagi dan sekarang kembali menganggap biasa-biasa saja berita itu.

“Jalan itu memang sepi kalau malam, tapi bukannya dulu jika matahari sudah terbit jalan itu akan sama dengan jalan yang lainnya.“ kata Andi.

“Tapi sejak munculnya bayangan yang aneh itu orang enggan melewatinya dan entah kenapa katanya, bayangan itu suka memakan jiwa seseorang......itu, kan kalimatmu selanjutnya?“ ujarku.

“Bukan Cuma bayangan, tapi pohon tua itu juga mengerikan, belum lagi sangat sedikit keramaian di sana membuat keadaannya sedikit angker.“

Entah kenapa aku menjadi sedikit bersemangat setelah memulai pembicaraan ini, sangat kontras dengan moodku beberapa detik yang lalu. Yah, jalan Kartapura sendiri merupakan jalan yang baru di buat beberapa bulan yang lalu, aku hanya sempat mencicipijalan ini selama dua bulan hingga akhirnya berita itu dicetak di koran lokal.

Aku sendiri malas untuk percaya dengan takhayul, tapi benar, pohon beringin tua itu kadang membuat bulu kudukku berdiri, ada sepasang mata yang seakan-akan mengawasiku di balik lebatnya dedaunan, pohon beringin itu sendiri bukan satu-satunya pohon yang ada, karena ada hutan kecil di belakangnya. Oh, aku lupa bilang kalau daerahku adalah daerah perbukitan di pinggiran kota.
Selain jalan Kartapura masih ada dua jalan alternatif yang dibuat pemerintah setempat, hanya saja tidak sebagus dan secepat jalan Kartapura.

“Woy!! Bengong terus, mikirin Aya ya?“ goda Andi.

“Ck..” jawabku singkat sambil beranjak dari tempat dudukku.

“Mau kemana?“ tanyanya.

“kamar kecil....mau ikut?“

“Ach...si abang“ jawabnya dengan gaya yang menjijikkan.

Aku berbohong ke Andi, padahal aku hanya ingin menghindari topik pembicaraan yang membosankan itu dan pergi ke atap kantorku. Disana sepi karena jarang ada yang datang kesana, tapi menurutku tempat ini sempurna karena ketenangan dan udara yang sejuk membuat moodku kembali naik.

Hiruk pikuk kota di bawah sana terasa kontras dengan di atas sini, mobil yang berbagai bentuk dan jenis berseliweran kesana kemari, pejalan kakipun bagaikan semut yang berjalan berhamburan di bawah sana.”Ramai“ pikirku, berbeda dengan keadaan di atas sini, hanya burung merpati yang menjadi temanku.

Asap mengepul dari ujung batang rokokku dan kemudian lenyap menyatu dengan angin, menyisakan aroma yang khas. “apa yang terjadi dengan kota ini“ benakku “benarkah kota ini telah dikutuk oleh penghuninya yang terdahulu karena manusia merusak tempat tinggal mereka yang damai di antara pepohonan dan perbukitan?“

“Ah, masa aku percaya dengan hal-hal yang seperti itu.....toh, aku sudah tinggal disini sejak kecil.“
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, ternyata Aya sedang ingin berbicara denganku.

“Ada apa?“ tanyaku pura-pura ramah.

“Lagi ngapain?“ tanyanya balik dengan suara lembutnya.

“Biasalah jam segini di kantor”

“Nanti siang sibuk nggak? Temenin aku ke toko buku dong hun
Aku hampir tersedak asap rokokku sendiri ketika mendengar ajakan Aya itu, masalahnya mentalku belum siap untuk menerima ajakannya.

“Mau ya?...sebentar aja kok, Cuma sampai istirahat makan siang selesai doang kok.” rengeknya seperti anak manja.

“Lho? Kan biasanya ke toko bukunya bareng dengan Vina dan Nandya?“ elakku.

“Mereka lagi nggak masuk, katanya sedang sakit“ jawabnya.

“Masa dua-duanya sakit?“

“Iya. mau ya hun? “ rengeknya lagi.

“Kita lihat nanti siang ya, soalnya kerjaanku lagi banyak nih. Nanti kuhubungi lagi kalau memang senggang.“ itulah jawaban terbaikku, masa bodoh mau senggang sekalipun aku tidak berminat menghubunginya.

“Ok. Sampai nanti ya....love you!!”
Kalimat terakhir dari Aya itu membuatku senang, tapi tetap saja keringat dinginku mengucur deras. Masalahnya aku malas meladeni si Aya ke toko buku yang biasanya lama walaupun hanya untuk membeli satu buku. ”Semoga saja aku bisa kabur kali ini“ benakku.

...

Tinggal beberapamenitlagi sebelum istirahat siang di kantorku, belum ada tanda-tanda dari Aya seperti pesan “Jangan lupa ya” dan semacamnya, ini hal bagus pikirku. Bisa jadi dia lupa atau semacamnya, setidaknya aku punya alasan jika dia bertanyakenapa nggak datangdan pertanyaan lain yang membuatku merasa bersalah.

Tepat pukul 12. Beberapa rekan kerjaku pun berbondong-bondong meninggalkan meja kerjanya, beberapa memilih tinggal dan makan makanan yang sengaja mereka bawa dari rumah. Perutku mulai mengeluh ketika sebuah wadah plastik dibuka dan menyebarkan aroma makanan yang menggiurkan, si Andi hanya tersenyum kecil mendengar bunyi perutku.

“Nggak makan siang?“ tanyanya sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

“Mau kok, ini udah mau keluar“ jawabku sambil mengangkat badanku dari kursi kerjaku.

“Good luck ya!!“

Sial dari mana si Andi tahu kalau aku sedang menghindari si Aya, mungkin hanya asal tebak saja benakku menenangkan diri. Aku segera berlari ke tempat parkir di mana aku meninggalkan motor bututku, di sini sudah mulai sepi. Hanya menyisakan lahan kosong.

Hatiku serasa melayang terbang. Apa yang kurencanakan sudah terlaksana, yaitu kabur dari ajakan Aya untuk hunting buku, tinggal beberapa meter lagi hingga akhirnya sampai di tempat aku meletakan motorku. Sipp!! Motorku ada dibalik pos satpam yang menghalangi pandangan. Seketika kulihat senyum sangar pak satpam sambil menyeruput kopi hangat favoritnya.

Namun belum juga aku memahami maksud dari senyuman itu, tiba-tiba alasan itu muncul sendiri di depan mataku. Sial!! Ternyata Aya sudah menunggu dari tadi sambil menduduki motorku. Hancurhanya itu yang ada di dalam otakku.

“Hai, hun!!“ ujarnya bersemangat.

“sudah lama nunggu?“ tanyaku murung sambil mengangkangi jok motorku.

“Lumayan, berangkat yuk....” dengan nada yang terdengar imut, tetap saja ini akan membosankan.
Di perjalanan Aya banyak bercerita mulai dari kegiatannya pagi ini dan semacamnya. Aku hanya menjawab dengan kata oh, mirip dengan jawabanku saat mendengarkan ocehan si Andi.

Jarak antara kantorku dan toko buku itu tidak begitu jauh, ditambah dengan mengendarai motor hanya butuh beberapa menit saja sampai di depan toko buku. Aya langsung meloncat dari motor dan berlari kecil masuk kedalam toko itu.

Kami menuju baris di mana ada tulisan novel di atas rak buku, berbagai macam judul dan penerbit menghiasi rak buku itu. Aya kelihatan bingung memilih judul, satu persatu buku novel itu di amatinya, sesekali ia berguman ketika membaca ulasan singkat yang ada di balik buku, aku lupa apa namanya.

“Hmmm....yang ini ceritanya menarik“ komentar Aya.

“Kenapa nggak langsung dibeli?“ kataku ingin segera pergi dari tempat ini.

“Hihihihihi....tapi tetap aja bukan buku yang aku cari“ ujar Aya dengan tawa yang mereka sebut tawa peri.

Teman sekantorku banyak yang menyebutnya demikian ditambah dengan hobinya membaca novel fantasy menjadikan istilah peri begitu lekat dengan sifatnya yang imut. Yah, entah musibah apa yang membuatku mengajaknya ke kantorku dan memperkenalkannya dengan mereka, yang jelas sekarang mereka sering menggodaku karena sudah mengencani gadis yang polos. Tapi apakah itu dosa?

Aku sudah mengenal Aya saat mengenyam pendidikan di bangku SMA, saat itu dia adalah adik kelasku. Aku yang saat itu hobi dengan game yang bertema fantasy menjadi tertarik dengan dengan Aya yang menurutku mirip dengan dengan salah satu karakter game kesukaanku. Hampir tiap hari aku mematai-matainya agar tahu banyak hal tentang dirinya. Mulai nama, alamat rumah, bahkan sampai alamat Facebook-nya.
Konyol memang. Hingga akhirnya aku dapat berbicara dengannya pada saat acara kelulusanku, aku sempat menyatakan perasaanku dengannya, wajahnya memerah seketika. aku menjadi cemas akan ditolaknya. Namun jawabanya memuaskan, dia menerimaku dan bahkan dia memberikan senyum terindahnya.

Masa yang indah itu kian memudar, entah karena aku yang sudah bosan atau semacamnya. Tapi akankah aku mencari pengganti Aya? Tidak sebelum aku memutuskan hubunganku dulu dengannya, tapi itu sangat sulit, aku belum siap melepaskan tawanya, ditambah seberapapun aku mengacuhkannya namun Aya adalah gadis yang setia dan entah apakah aku akan menemukan gadis yang sesetia Aya diluar sana.

Maksudku, lihat gadis-gadis jaman sekarang, kesetiaan mereka sangat mahal, kita harus rutin memberikan apa yang dia mau agar mendapatkan kesetiaannya, sedangkan Aya berbeda. Dulu aku sempat meninggalkanya saat membeli buku seperti ini karena bosan menunggu. Dia seharian  menungguku bahkan sampai toko ini tutup. Teleponnya tidak kuangkat bahkan pesan singkatnyapun tidak kuhiraukan.

Besoknya dia hanya tersenyum seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Jujur itu membuatku menyesal, aku kira aku akan mempunyai kesempatan untuk berpisah dengannya karena ia marah, tapi itu membuatku merasa menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.

“Arggh!! Ini semua membingungkan!!!“ teriakku tanpa menghiraukan tempat dimana aku berdiri, banyak pengunjung yang memandangiku dengan berbagai ekspresi. Aku malu setengah mati atas diriku yang lepas kontrol karena memikirkan masa laluku.

“Kacau“ hanya itu yang ada dibenakku.

Aya juga demikian kagetnya dengan pengunjung lain toko ini, namun wajah keheranannya langsung berubah menjadi senyuman. Ia seakan-akan mengetahui masalahku, tapi semoga saja tidak! Lagi pula Aya bukan paranormal atau semacamnya.

“Bingung kenapa hun?“ tanyanya.

“Ah. Nggak, biasalah kerjaan dikantor“ ujarku berbohong untuk kesekian kalinya.
Yap, entah sudah berapa banyak dosa yang telah kulakukan ke Aya dan entah akan berapa lama dia tetap sesabar ini.

“Ke kasir yuk...bukunya sudah dapat nih.“ kata Aya sambil memegang sebuah buku Novel pilihannya.

“Ok.“
...

Besoknya. Seperti biasa aku sedang mengerjakan beberapa laporan yang harus diselesaikan hari ini, namun konsentrasiku buyar seketika saat Andi datang dan mulai mengoceh tentang kegiataanku bersama Aya kemarin, aku kira itu bukan hal yang besar jika mengantar Aya ke toko buku dan agak telat saat kembali ke kantorku.

Namun beberapa rekan kerjaku kelihatannya benar-benar cemburu melihatku jalan dengan gadis yang menurut mereka sempurna. Semoga saja mereka tidak membentuk grup yang aneh-aneh untuk menjatuhkanku atau semacamnya.

“Ada berita terbaru dari kecelakaan itu?“ ujarku berusaha mengganti topik.

“kelihatannya belum ada. Bahkan polisi pun belum akan melakukan tidakan atas kejadian ini“

“Yeah. Mungkin mereka terlalu sibuk menilang kendaraan dan semacamnya“

“Dan semacamnya? Kenapa kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan burukmu itu Roy?. Apakah itu karena memang sifatmu yang terlalu malas berbicara panjang lebar dan semacamnya?“ sindir Andy yang sok mengkritikku seolah ia tidak punya kebiasaan yang buruk.

“Uh-huh. Bagaimana dengan kau? Dasar ibu-ibu!!“ aku sedikit menaikkan nada suaraku.
Andy terdiam sejenak. Terlihat mukanya sedikit agak memerah, aku yang merasa bersalah karena mengejeknya juga ikut terdiam.

“Wahahahahaha!! Ternyata kita sama-sama punya kebiasan yang buruk ya Roy?“ tawa Andi menggelegar, membuatku sedikit terkejut dan entah kenapa malah ikut tertawa.

“Hahaha, tapi di cerita ini, itu disebut ciri khas“ ujarku berbicara sekenanya.

“Baiklah, Aku harus kembali kemejaku dulu, ada beberapa tugas yang harus kukerjakan dan semacamnyA” sindir Andy lagi.

“ Ya....“ hanya itu jawabanku ketika telepon genggamku berbunyi. Sial! Ternyata Aya mengirim pesan singkat yang isinya mengingatkanku untuk tidak melupakan janjiku malam ini. Ternyata malam ini adalah malam minggu.

Aya hanya berpesan untuk menunggunya saja dirumahku dan akan menjemputku dengan motor barunya yang ia beli beberapa waktu lalu, namun karena beberapa sebab ia tetap menyimpannya tanpa menggunakannya sekalipun. Aku sedikit khawatir dengan cara berkendaranya yangkurasa masih amatir, namun ia tetap memaksa ingin memamerkan motor barunya itu seolah-olah aku akan takjub saja dan semacamnya.

“Terserah kau sajalah“ balasku.

“Thank’s, Hun!!“ balasnya beberapa detik kemudian.
Aku tidak membalasnya. Karena aku yakin akan jadi panjang jika aku balas lagi. namun entah kenapa ada sesuatu yang lupa aku beri tahu ke Aya....

...

Malamnya. Aya berjanji akan menjemputku pukul 19:00, masih ada setidaknya 15 menit lagi sebelum waktu itu. Namun kebosanan sudah menyerangku duluan, tangankupun sudah pegal menekan tombol remot TV yang acaranya sangat membosankan semua, tidak heran hampir tiap malam minggu banyak orang yang lebih memilih jalan-jalan daripada bersantai ria dirumah.

Aku memang benci dengan kebosanan, padahal hidupku sendiri sudah cukup bosan. Baik rutinitas sehari-hari dan semacamnya. tapi apa boleh buat, itulah kehidupanku saat ini, mau tidak mau harus kujalani.

Entah setan apa yang merasukiku, akhirnya aku menelpon Andi untuk menghilangkan kebosananku. Masalahnya Andi adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan kebosanan karena entah darimana informasi yang selalu diocehkannya selalu panjang tak berujung.

“Halo?“ sapanya dari di ujung sana.

“kau lagi apa kawan?“

“Oh, kau Ryo.....apa kau sudah dengar berita baru dari jalan Kartapura?“ ujar Andy dengan suara yang 
terdengar sedikit bersemangat.

“Memangnya ada apa lagi?“

“Sekarang korbannya sudah bertambah 1 lagi!.“ terdengar suara Andi mulai bergetar “Aku tidak tahu berita 
pastinya, tapi tadi seorang teman menceritakan hal ini kepadaku“

“Benar-benar parah kalau begitu, menurutmu siapa korbannya kali ini?“

“Perempuan. Kalau tidak salah ia mengendarai sebuah motor, tapi aku tidak tahu detailnya.“
Tiba-tiba hatiku menjadi tidak enak, semoga bukan hal yang aku yang bayangkan yang akan terjadi.“ Kau sedang ada dimana?“ tanyaku.

“Aku sedang menuju kelokasi, kira-kira 15 menit lagi aku sampai.“

“Oke!!“ hanya itu jawabanku, sebelum menutup telepon.
Jam dindingku sudah menunjukan pukul 19:05, lewat lima menit dari jadwal yang sudah di janjikan Aya. Tapi hanya lima menit, belum terlalu molor dari jadwal yang Aya janjikan.

Namun. Kecemasanku mulai menjadi-jadi 25 menit kemudian, Aya tak kunjung datang, aku bahkan menghubungi telepon genggamnya beberapa kali namun hasilnya nihil. Tidak biasanya ia terlambat, apalagi malam ini adalah malam yang ia tunggu-tunggu, Aku harap ia baik-baik saja.
Ketika aku hendak mencoba menghubungi Aya lagi, tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, aku langsung mengangkatnya, tidak peduli siapa itu dan kuharap itu adalah Aya.

“Halo!!!“ ujarku setengah berteriak.

“Halo Ryo, ini Andi....” suara Andi bergetar ketika ucapannya terputus.

“Ada apa ndi?“ tanyaku tidak sabar “apa kau sudah melihat korbannya?”

“Ya....” Andi seakan-akan tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.

“Siapa!!” aku mulai kehilangan kesabaran.

“Maaf Ryo.....tugasku hanya sampai disini saja.”

“Tugas? Apa yang kau bicarakan kawan!!”

“..................”

Telepon dari Andi terputus. Aku mulai khawatir di dalam kebingunganku, apa yang dimaksud Andi barusan, sebelumnya aku tidak pernah sekhawatir ini, apakah ini pertanda buruk. Aku harus segera melihatnya sendiri ke tempat terkutuk itu. Namun, belum juga aku memegang kunci motorku, terdengar suara ketukan dari balik pintu. Ketukan pintu itu terdengar aneh, sedikit berirama namun lemah. Tapi sudahlah, aku hanya perlu mengusir orang yang ada dibalik pintu itu. Toh, waktu kedatangannya kurang tepat.

“Tunggu sebentar!!” ujarku sedikit berteriak.

Aku sedikit ragu untuk membuka pintu saat tanganku menyentuh ganggangnya, ada perasaan dingin yang menjalari tubuhku dalam sekejap dan hilang seakan itu hanya imajinasiku saja, tapi mustahil. Bulu-bulu halus ditanganku berdiri semua.

Ah. Masa bodoh, pikirku. Aku sudah tidak punya waktu untuk ragu, aku harus segera memastikan siapa korban kecelakaan itu, dengan mantap kuputar ganggang pintu itu. Masa bodoh dengan imajinasi atau kenyataan.

mataku terbelalak melihat tubuh kaku dihadapanku, mukanya begitu kelam dengan pandangan mata yang semu. Wajahnya sangat kukenal namun ekspresi itu sama sekali tidak pernah kulihat. Tubuhku bergetar seketika, aku bahkan tidak mampu mengatur napasku.

“Aya!!” akhirnya aku membuka suara.

“Maaf aku terlambat Hun....” ucapnya lirih.

“ A...apa yang terjadi?”

“Dia sudah menjemputku Hun...ini sudah saatnya aku pergi.”

“Dia siapa?” ujarku bingung “apa maksudmu pergi?.....”

Belum sempat Aya menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba sosok berjubah yang entah dari mana datangnya 
munculdan memotong pembicaraan kami, sosok itu berbisik di belakang leher Aya.

“Tolong berikan sedikit waktu lagi.” Ujar Aya memohon.

“Tapi ini sudah diluar batasku, Aya. pintu itu tidak bisa kubuka lama-lama di dunia manusia.”
Aya kemudian memandang wajahku, matanya begitu menyedihkan membuatku ingin menangis melihatnya.

“Aku harus pergi.....Ryo” Sosok itu kemudian maju selangkah ketempat yang lebih terang. Ia membuka jubahnya. Sosok itu tersenyum.

“Maaf kawan, kami benar-benar harus segera pergi.” Ujar.....Andi.
Aku sudah kehabisan kalimat. Namun, Aya mencoba membuatku tenang dengan senyum perinya.

“Ini tidak mungkin terjadi!!!” jeritku.

“Maaf Hun....aku selama ini sudah membuatmu bosan” tubuh Aya mulai memancarkan cahaya, sementara aku hanya termenung dengan pengakuan Aya, selama ini Aya sudah tahu kalau aku mengganggapnya membosankan.

“Tidak!! Aku yang salah karena telah mengacuhkan wanita terbaik didunia.”

Aku memeluk erat tubuh kaku Aya, meski demikian tubuhnya sangat hangat. Hingga akhirnya pecah menjadi partikel cahaya kecil yang melayang pelan menjauhi tubuhku. Andi bahkan melakukan hal yang sama, tubuhnya bercahaya sangat terang bahkan hampir menyilaukan mataku.

“Sampai jumpa....Hunny” ujar Aya yang sekarang berbentuk bola cahaya yang sangat indah.
Kemudian cahaya itu di pegang oleh Andi dengan lembut.

“Sampai bertemu lagi kawan” ucap Andi tersenyum.

“Brengsek!! Kau Andi...kembalikan Aya!!!” jeritku memaki mahkluk cahaya didepanku.

Namun. Ketika tanganku belum menyentuh makhluk itu, sepasang sayap putih mengembang lebar. Yang kemudian hanya sekali kepakan aku terpental hebat, banyak suara barang pecah di sekitarku namun aku tidak perduli, aku mencoba bangkit kembali untuk merebut Aya. Mahkluk itu hanya tersenyum melihatku kepayahan berdiri.

Andi sudah berjongkok dengan posisi seperti orang yang akan meloncat, sementara aku berlari menuju kearahnya, Cahaya itu muncul lagi, bahkan Andi mengangkat tinggi sayapnya dan kemudian dengan sekali kepakan. Angin hebat menerpa tubuhku.
Aku terpental hingga menembus dinding dan entah mendarat dimana, rasanya tulangku patah semua, aku sudah tidak mampu berdiri sementara cahaya putih terus melaju menembus awan diatas sana.
...
Aku terbangun dengan sinar matahari yang terang menyilaukan, badanku basah oleh keringat yang lengket sementara pikiranku belum sepenuhnya kembali. Dimana ini pikirku.Perlahan pikiranku mulai sadar. Aku mencoba mengangkat tubuhku dari tempatku terbaring, didepanku muncul TV tuaku yang sedang menyala.

“Aya!!” ucapku saat ingatan itu mulai muncul dipermukaan.

Badanku mulai gemetar membayangkan kejadian malam tadi, apakah aku sudah kehilangan Aya? benakku tidak percaya. Tepat di hadapanku ia tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal, tawa itu Lenyap seketika menjadi cahaya putih yang menyilaukan.

“Brengsek kau And---“ tiba-tiba telepon genggamku berbunyi nyaring, seseorang mengirimiku pesan singkat.
Disitu tertulis nomor telepon....Aya!!.

Aku seakan-akan tidak percaya dengan apa yang kulihat, apa maksud dari ini semua. Apa ada orang yang sedang mengerjaiku. Kubuka pesan singkat itu dengan ragu.

“Ke toko buku, yuk, Hun?” hanya itu isinya tidak ada yang lain dan entah darimana datangnya banyak panggilan masuk yang tidak kujawab. Semuanya dari Aya.

Aku sudah tidak perduli dengan pakaianku yang acak-acakan, motor tuaku aku pacu secepat mungkin membelah jalan raya menuju ketempat yang dijanjikan Aya, katanya ia janji akan menungguku didepan kantor tempatku bekerja.

Beberapa pengendara lain sempat mengumpatku karena cara mengendaraku yang ugal-ugalan, bahkan ketika aku hampir saja menabrak sebuah mobil yang muncul dari persimpangan jalan lain, tapi aku seakan tidak perduli, aku terus saja melaju.

Hingga akhirnya aku tiba di kantor tempatku bekerjatapi aku tidak melihat Aya saat aku memarkirkanmotorku di depannya, mataku berusaha memindai tiap wajah yang ada di depanku mencari wajah seorang gadis yang kurindu.

“Kok, lama sih Hun?” suara merdu itu muncul di belakangku, Aya tersenyum dengan wajah manisnya yang entah bagaimana aku menggambarkanya.

Di toko buku, Aya sibuk mencari Novel kegemarannya. Sesekali ia minta pendapatku yang tentu saja kujawab dengan serius. Tadi Aya sempat kaget melihatku teriak histeris sambil memeluknya, aku terus menerus mencubit tanganku sejak saat itu, berharap ini bukan mimpi.

“Nanti habis ini makan siang, yuk?” ujarku.

“Apa nggak masalah?” Tanya Aya.

“Masalah kenapa?...”

“Yah, kan biasanya kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu” Ujarnya heran.

“Tenang, mulai sekarang aku akan mengurangi kesibukanku demi kamu”

“hihihi, kok jadi Aneh sih?”

“Entahlah, kayanya ada yang menyadarkanku akan sesuatu.”

“Eh, tadi Andi ada nitipin surat tuh.” Ujar Aya sambil memberiku sebuah kertas yang dilipat sembarangan.
Tidak biasanya pikirku, biasanya Andi akan menemuiku secara langsung atau menghubungiku lewat telepon. Tapi sudahlah, mungkin ia sedang sibuk dan semacamnya.

Seminggu berlalu sejak mimpi buruk itu, kini hubunganku dengan Aya mulai membaik, aku sudah membuang pemikiran negatif itu. Yah, kehilangan Aya bukanlah hal yang pernah aku bayangkan, tidak dengan cara demikian.

Oh iya. Mengenai tragedi JL.kartapura, polisi akhirnya menemukan penyebab terjadinya kecelakaan itu. Ternyata bayangan yang mengerikan itu hanyalah seekor Orangutan biasa yang tersesat jauh dari habitatnya. Lucunya, karena hanya berani keluar malam hari orang-orang mengiranya sebagai hantu atau roh yang suka memakan jiwa manusia, karena saking percayanya akan anggapan ini orang akan mengalami ketakutan secara berlebihan sehingga kehilangan konsentrasi dan terjadilah kecelakaan.
Menggelikan memang, tapi sudahlah secerdik-cerdiknya ras manusia tetap saja mampu dibodohi oleh perasaan sendiri.

Kini aku dan Aya sedang merencanakan liburan musim panas, menurut rencana kami akan pergi liburan ke sebuah tempat yang indah, lengkap dengan penginapan yang menghadap ke arah laut. Kadang aku berpikir, darimana aku bisa punya uang sebanyak itu yang hanya sebagai pegawai kantoran biasa ini.

Untuk Andi, akhirnya aku membaca juga suratnya setelah menyadari ia sudah tidak bekerja lagi sekantor denganku. Yah, aku sempat terkejut ketika membacanya, mengingatkanku dengan mimpi itu lagi. Isinya hanya tulisan pendek namun membuatku seakan-akan merinding dibuatnya. Yap, Tuhan memang Maha segalanya.


        Maaf kawan. aku belum bilang sebelumnya tentang pekerjaanku yang asli, tapi jujur aku iri kau memiliki Aya. Jaga gadis itu bro, jarang ada peri di jaman sekarang......kalau ada kesempatan mungkin kita akan bertemu lagi. Yah, tentu saja di tempat lain yang lebih indah.

P.S: Di dunia sana baik-baik ya. Ingat,“mimpi” itu adalah peringatan!

Andi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar