Jumat, 19 Juli 2013

Red Merchant part 01

            


            Tahukah kalian? Hanya butuh waktu seminggu masa liburan tambahan dan kalian akan merasa menjadi anak baru lagi di sekolah tempat kalian belajar selama tiga tahun, bukan berarti aku sengaja menambah masa liburan semester yang cukup panjang ini tapi mau bagaimana lagi, pesawat yang aku tumpangi memang berangkat seminggu setelah sekolah masuk.
            
             Tapi masa bodoh, kini akhirnya ajaran baru sebagai senior di sekolah ini dimulai juga, berada di kasta tertinggi di sekolah ini lumayan membanggakan juga. Tapi kayanya aku terlambat untuk mendapat imej baik dari adik-adik kelasku, bisa dibilang aku gagal jadi pria alpha tahun ini.
            
             Masalahnya lumayan sepele, hanya karena aku lupa jika berjalan di tengah lapangan itu adalah sesuatu yang akan memancing puluhan sorak merendahkan.
            
             Aku benar-benar merasa pecundang saat itu, sangat pecundang.

Tapi seorang pecundang yang kumaksud bukan benar-benar pecundang seperti yang ada di film-film, ini tahun 2012 semua hal berubah perlahan tiap tahun, tidak ada lagi sekumpulan brengsek yang menindas orang culun demi sebuah soal matematika. Walau ada beberapa anak nakal yang kelewatan liarnya.


Namun fase membosankan dari sebuah belajar itu masih tetap setia menemani pelajar malas seperti aku, seperti sekarang, ceramah Bu Sri yang mengajar sejarah ini seakan-akan sedang menari di dalam perutku. Benar-benar boring disaster!!

"Bro, oleh-oleh dari jawanya mana? Kemaren bilangnya mau ngasih kerupuk kulit?" Ujar kawan sebangkuku yang bernama Fauzy.

"Tenang, besok aku bawa deh. Pagi ini terlalu buru-buru soalnya."

"Alasan aja terus..." Ujar Fauzy cemberut.

Aku kemudian mengalihkan pandangan ke arah bangku favoritku, di sana ada "Milina" seorang gadis suram yang jarang tersenyum dengan rambut panjangnya, beberapa kawan sekelasku sering mengejeknya dengan sebutan "Kuntilanak" namun Milina membalas ejekan itu dengan tertawa seram yang dibuat-buat dan terdengar seperti melengking, hal itu membuat para pengejeknya lari ketakutan.

           Namun suatu saat aku ingin membuat ia tertawa lepas dan tidak dibuat-buat seperti sekarang, entah masalah apa yang membuatnya terus murung saat ini, aku ingin sekali melihat senyumnya walau sekali.


...

             Pernah kah kalian melihat sebuah perang geng? Bisa dibilang aku sedang menyaksikannya saat ini.

            Aku sengaja memilih jalan memutar saat pulang sekolah tadi, hingga akhirnya aku sampai di tempat ini. Yah, bisa dibilang aku sedikit tersesat tadi. Tapi entah apa konflik dari 2 kelompok yang sedang bertarung saat ini aku kurang paham.

             Awalnya seorang pria berjas hitam keluar dari sebuah mobil dengan menenteng koper hitam yang entah apa isinya, lalu pria itu menjabat tangan pria didepannya. Mereka awalnya hanya berbicara seperti biasa hingga akhirnya mereka saling berteriak seperti sekumpulan kera dan akhirnya tembakan demi tembakan beterbangan kesegala arah, sial, aku terjebak di sebuah baku tembak antar mafia saat ini!!

             Aku hanya bisa jongkok di antara rumput tinggi yang jaraknya lumayan jauh dari TKP sambil memeluk koper pria berjas hitam itu. Entah kenapa pria itu melempar kopernya kesembarang arah dan beruntungnya nyasar ke tempat di mana aku sedang bersembunyi. Satu persatu anggota kedua mafia itu berjatuhan dimana besi-besi panas beterbangan kemana-mana, salah satunya berhasil mengenaiku, tapi hanya sekedar menggesek kulitku saja.

             Aku menjadi penasaran dengan apa isi kotak ini, apa yang membuat kedua kelompok ini mempertaruhkan nyawanya? Aku beruntung karena di koper itu tidak ada kunci pengamannya segala. Mungkin isinya duit dan aku bisa meminjamnya beberapa untuk membeli souvenir JKT48 yang asli, tapi sebuah sinar merah menyilaukan mataku ketika koper itu terbuka, hingga akhirnya sinar itu menghilang aku terkejut ketika melihat isi kotak itu kosong.



"Tubuh baru diterima" Ujar suara wanita yang datangnya entah dari mana.

"Si-siapa itu!!" Ujarku sambil berdiri.

              Beberapa mafia yang masih hidup di depanku terkejut ketika melihat kearahku, satu di antaranya bahkan meneteskan liur dengan mulut yang ternganga lebar.

"Bodoh!!! Kenapa kau pakai pusaka itu!!!" Bentak pria berjas hitam.

              Aku masih tidak paham dengan apa yang ia bicarakan, hingga akhirnya aku melihat tanganku sendiri yang kini mengenakan sebuah armor berwarna merah-hitam.

"Apa yang terjadi!!!" Aku berteriak panik.

"Kualitas otot, check"

"Kemampuan berpikir, check"

"Siapa itu yang berbicara!!!" Ujarku memaki kesegala arah.

"Aku yang berbicara" Ujar suara wanita yang datangnya entah dari mana.

"Di mana kau!! Berhentilah berbicara aneh!!!"

"Kau sedang mengenakanku, akulah yang memandumu sekarang"

               Armor ini berbicara, tapi kelihatannya hanya aku saja yang dapat mendengarnya, sementara mafia-mafia didepanku hanya melotot takjub.

"Jadi inilah pusaka besi itu? Pusaka rahasia yang diperebutkan 2 kerajaan kini jatuh ketangan orang yang tak di kenal" Pria berjas hitam bergumam seperti orang gila.

"Musnahkan saksi mata" ujar suara wanita itu lagi.

"Tunggu, aku belum siap me..." Aku belum menyelesaikan kalimatku ketika sesuatu di pundakku terbuka dan menembakan peluru berbentuk bola.

Tidak ada yang selamat dari serbuan peluru itu, kini mereka terjatuh ketanah tak bernyawa dan ini semua salahku.

"Misi terlaksana" Ujar suara itu lagi.

"Apanya yang misi!!! Aku membunuh!!! Kau paham itu nona??!! Membunuh!!!"

"Alasanmu tidak diperlukan, tugasmu hanyalah sebagai inang dan turuti perintah"

"Kau kira dirimu siapa??!! Kau hanyalah armor yang bisa berbicara dan tidak bisa apa-apa tanpa inangmu!!! Jadi kau lah yang harus menuruti perintahku dan kembalikan aku kebentuk normalku!!!"

Seketika ada sesuatu yang seakan-akan merobek armor ini, akhirnya aku bisa melihat kulit dan seragam putihku lagi, hanya ada sebuah benda aneh di dadaku yang tidak bisa dicabut.

"Untuk sekarang kau bisa kembali kepada kehidupanmu sehari-hari dan menjadi manusia normal, hingga nanti kau diperlukan lagi"

"Fuckyeah!! Kita lihat saja nanti" Ujarku sambil bergegas meninggalkan tempat itu.

...

"Jadi, apakah aku sekarang punya kekuatan super?"

"Bisa dibilang demikian, kau bisa mengeluarkan setiap senjata yang bisa kau bayangkan dan menggunakannya untuk menyerang atau berlindung."

"Itu kekuatanku? Lalu, bagaimana jika aku ingin berubah?"

"Semua bisa kau kendalikan melalui pikiran, tapi tidak bisa bebas jika aku tidak menyetujuinya."

"Sama saja bohong kalau begitu, tapi untuk apa kau sebenarnya diciptakan?"

"Sebagai Inang kau tidak boleh tahu, cukup lanjutkan hidupmu dan turuti perintahku."

            Mahkluk ini terkadang judes juga, tapi biarlah, asal ia tidak menyuruhku berbuat jahat akan kuturuti segala perintahnya.

            Sudah sepagian ini aku menjadi tontonan kawan-kawan sekelasku, mereka meraba otok di tanganku seakan-akan takjub sedang melihat Herkules putra Zeus, beberapa dari mereka bertanya bagaimana aku bisa berotot seperti ini dalam sekejap. Namun kelihatannya hanya Millina saja yang mengacuhkanku, ia masih duduk di bangkunya dengan pandangan semu.

            Ia juga tampak kurus dibanding beberapa bulan yang lalu ketika ia baru pertama kali masuk ke sekolah kami dan duduk di ruangan ini, ekpresinya masih sama seperti saat itu, sepi dan suram seperti orang yang sudah kehabisan semangat, namun kini kondisinya lah yang sedang aku khawatirkan, ia tampak sakit saat ini.

"Woy, Arzal!!! Kau apakan tubuhmu hingga menjadi berisi begitu? Apa kau minum obat?" Ujar Fauzy sambil menarik pundakku..

"Latihan dong!!" Jawabku sekenanya.

"Bohong!! Kau pasti minum obat atau semacamnya. Bilang padaku apa nama obatnya, kasih rahasiamu Arzal!!" Paksa Fauzy.

"Tidak mau. ini rahasiaku, apa rahasiamu?" Ujarku sambil meniru sebuah kalimat di iklan TV.

            Fauzy pun menggunakan berbagai cara untuk memaksaku untuk berbicara. Namun gerak-gerik aneh Millina menarik perhatianku, ia kini sedang menggigit jari manisnya dengan raut cemas di wajahnya. Apa yang mengganggunya saat ini?

...

            Bel pulang terdengar merdu di telingaku, seperti suara terompet kejutan yang berbunyi panjang sambil diikuti suara sorak sorai gembira dari semua murid di tiap kelas sekolah ini. Namun aku melihat Millina berjalan tergesa-gesa menerobos kerumunan murid yang berjalan satu arah. Aku mencoba mengikutinya dari belakang dan menjaga jarak ketika ia berhenti dan melirik kesegala arah dan kemudian berjalan cepat lagi menuju pintu gerbang.

            Hingga akhirnya seorang pria paruh baya berdiri di hadapannya, Millina tampak terkejut ketika pria itu mulai berbicara kepadanya, hingga akhirnya segerombolan murid menghalangi pandanganku, tidak sampai satu menit kini Millina sudah hilang di depan sana. Mungkin pria tadi adalah sanak keluarganya yang mau menjemputnya.

...

            Besoknya, Millina tidak hadir ke sekolah. Tidak ada surat sakit atau pemberitahuan dari orang tuanya pagi itu, di antara kami semua tidak ada yang tahu bagaimana keadaan Millina. Namun kawan sebangkunya berkata kepadaku agar tidak perlu khawatir, bukankah sudah biasa jika seorang murid absen tanpa keterangan.

            Tapi aku perlu memeriksanya, aku perlu memastikan ia baik-baik saja.

            Dari jauh aku mendengar kegaduhan dari rumah Millina, terdengar suara pria berteriak memaki, selain itu juga terdengar suara wanita menangis di sana. Sesuatu terjadi di sana, keluarga Millina sedang mengalami sebuah masalah. Aku mencoba sesopan mungkin ketika memasuki medan tempur kecil itu, dari luar rumah aku mengucapkan salam beberapa kali namun tampaknya tidak ada yang mendengar suaraku bahkan suara ayah Millina makin kencang saja. Di ruang tamu itu tampak ibu Millina sedang duduk sambil memeluk foto Millina.



"Kamu siapa?" Ujar ibu Millina sambil tersenyum kecil walau mukanya merah.

"Maaf mengganggu, saya Azral fahreza. Saya teman sekelasnya Millina."

            Mendengar kalimatku ibu Millina langsung berdiri dari kursi dan berlari kecil ke kamarnya. di ruang tamu ini hanya tinggal aku dan ayah Millina yang tersisa.

"Pulanglah nak, Millina sedang tidak ada di rumah." Ujar pria tambun itu sambil beranjak menyusul istrinya.

            Aku menahan pria itu pergi meninggalkanku, aku menyentuh selembut mungkin pundaknya agar emosi yang meluap-luap di dadanya itu tidak menyambarku. Namun kelihatannya aku salah, matanya langsung melotot ketika ia berbalik menghadapku, aku bisa merasakan ada api kasat mata dari dadanya yang perlahan keluar dari pundaknya, moodnya sedang tidak bagus, aku bisa saja dihajarnya saat itu.

            Namun ekpresinya berubah seketika menjadi ketakukan, ia terjatuh tepat di depanku walau aku tidak melakukan apa-apa. Kini keringat dingin mengalir di dahinya, tidak ada siapa-siapa saat itu. Hanya aku saja yang berdiri di depannya.....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar