Tahukah kalian? Hanya butuh waktu seminggu masa liburan tambahan dan kalian akan merasa menjadi anak baru lagi di sekolah tempat kalian belajar selama tiga tahun, bukan berarti aku sengaja menambah masa liburan semester yang cukup panjang ini tapi mau bagaimana lagi, pesawat yang aku tumpangi memang berangkat seminggu setelah sekolah masuk.
Tapi masa bodoh, kini akhirnya
ajaran baru sebagai senior di sekolah ini dimulai juga, berada di kasta
tertinggi di sekolah ini lumayan membanggakan juga. Tapi kayanya aku terlambat
untuk mendapat imej baik dari adik-adik kelasku, bisa dibilang aku gagal jadi
pria alpha tahun ini.
Masalahnya lumayan sepele, hanya
karena aku lupa jika berjalan di tengah lapangan itu adalah sesuatu yang akan
memancing puluhan sorak merendahkan.
Tapi seorang pecundang yang kumaksud bukan
benar-benar pecundang seperti yang ada di film-film, ini tahun 2012 semua hal
berubah perlahan tiap tahun, tidak ada lagi sekumpulan brengsek yang menindas
orang culun demi sebuah soal matematika. Walau ada beberapa anak nakal yang
kelewatan liarnya.
Namun fase membosankan dari sebuah belajar itu
masih tetap setia menemani pelajar malas seperti aku, seperti sekarang, ceramah
Bu Sri yang mengajar sejarah ini seakan-akan sedang menari di dalam perutku.
Benar-benar boring disaster!!
"Bro,
oleh-oleh dari jawanya mana? Kemaren bilangnya mau ngasih kerupuk kulit?"
Ujar kawan sebangkuku yang bernama Fauzy.
"Tenang,
besok aku bawa deh. Pagi ini terlalu buru-buru soalnya."
"Alasan aja
terus..." Ujar Fauzy cemberut.
Aku kemudian mengalihkan pandangan ke arah bangku favoritku, di sana ada
"Milina" seorang gadis suram yang jarang tersenyum dengan rambut
panjangnya, beberapa kawan sekelasku sering mengejeknya dengan sebutan
"Kuntilanak" namun Milina membalas ejekan itu dengan tertawa seram
yang dibuat-buat dan terdengar seperti melengking, hal itu membuat para
pengejeknya lari ketakutan.
Namun suatu saat
aku ingin membuat ia tertawa lepas dan tidak dibuat-buat seperti sekarang,
entah masalah apa yang membuatnya terus murung saat ini, aku ingin sekali
melihat senyumnya walau sekali.
...
Pernah kah kalian
melihat sebuah perang geng? Bisa dibilang aku sedang menyaksikannya saat ini.
Aku sengaja
memilih jalan memutar saat pulang sekolah tadi, hingga akhirnya aku sampai di
tempat ini. Yah, bisa dibilang aku sedikit tersesat tadi. Tapi entah apa
konflik dari 2 kelompok yang sedang bertarung saat ini aku kurang paham.
Awalnya seorang
pria berjas hitam keluar dari sebuah mobil dengan menenteng koper hitam yang
entah apa isinya, lalu pria itu menjabat tangan pria didepannya. Mereka awalnya
hanya berbicara seperti biasa hingga akhirnya mereka saling berteriak seperti
sekumpulan kera dan akhirnya tembakan demi tembakan beterbangan kesegala arah,
sial, aku terjebak di sebuah baku tembak antar mafia saat ini!!
Aku hanya bisa
jongkok di antara rumput tinggi yang jaraknya lumayan jauh dari TKP sambil
memeluk koper pria berjas hitam itu. Entah kenapa pria itu melempar kopernya
kesembarang arah dan beruntungnya nyasar ke tempat di mana aku sedang bersembunyi. Satu
persatu anggota kedua mafia itu berjatuhan dimana besi-besi panas beterbangan
kemana-mana, salah satunya berhasil mengenaiku, tapi hanya sekedar menggesek
kulitku saja.
Aku menjadi
penasaran dengan apa isi kotak ini, apa yang membuat kedua kelompok ini
mempertaruhkan nyawanya? Aku beruntung karena di koper itu tidak ada kunci
pengamannya segala. Mungkin isinya duit dan aku bisa meminjamnya beberapa untuk
membeli souvenir JKT48 yang asli, tapi sebuah sinar merah menyilaukan mataku ketika
koper itu terbuka, hingga akhirnya sinar itu menghilang aku terkejut ketika
melihat isi kotak itu kosong.
"Tubuh baru diterima" Ujar suara wanita yang datangnya entah dari mana.
"Si-siapa
itu!!" Ujarku sambil berdiri.
Beberapa mafia
yang masih hidup di depanku terkejut ketika melihat kearahku, satu di antaranya
bahkan meneteskan liur dengan mulut yang ternganga lebar.
"Bodoh!!!
Kenapa kau pakai pusaka itu!!!" Bentak pria berjas hitam.
Aku masih tidak
paham dengan apa yang ia bicarakan, hingga akhirnya aku melihat tanganku
sendiri yang kini mengenakan sebuah armor berwarna merah-hitam.
"Apa yang
terjadi!!!" Aku berteriak panik.
"Kualitas
otot, check"
"Kemampuan
berpikir, check"
"Siapa itu
yang berbicara!!!" Ujarku memaki kesegala arah.
"Aku yang
berbicara" Ujar suara wanita yang datangnya entah dari mana.
"Di mana
kau!! Berhentilah berbicara aneh!!!"
"Kau sedang
mengenakanku, akulah yang memandumu sekarang"
Armor ini
berbicara, tapi kelihatannya hanya aku saja yang dapat mendengarnya, sementara
mafia-mafia didepanku hanya melotot takjub.
"Jadi inilah
pusaka besi itu? Pusaka rahasia yang diperebutkan 2 kerajaan kini jatuh
ketangan orang yang tak di kenal" Pria berjas hitam bergumam seperti orang
gila.
"Musnahkan
saksi mata" ujar suara wanita itu lagi.
"Tunggu, aku
belum siap me..." Aku belum menyelesaikan kalimatku ketika sesuatu di
pundakku terbuka dan menembakan peluru berbentuk bola.
Tidak ada yang
selamat dari serbuan peluru itu, kini mereka terjatuh ketanah tak bernyawa dan
ini semua salahku.
"Misi
terlaksana" Ujar suara itu lagi.
"Apanya yang
misi!!! Aku membunuh!!! Kau paham itu nona??!! Membunuh!!!"
"Alasanmu
tidak diperlukan, tugasmu hanyalah sebagai inang dan turuti perintah"
"Kau kira
dirimu siapa??!! Kau hanyalah armor yang bisa berbicara dan tidak bisa apa-apa
tanpa inangmu!!! Jadi kau lah yang harus menuruti perintahku dan kembalikan aku
kebentuk normalku!!!"
Seketika ada
sesuatu yang seakan-akan merobek armor ini, akhirnya aku bisa melihat kulit dan
seragam putihku lagi, hanya ada sebuah benda aneh di dadaku yang tidak bisa
dicabut.
"Untuk
sekarang kau bisa kembali kepada kehidupanmu sehari-hari dan menjadi manusia
normal, hingga nanti kau diperlukan lagi"
"Fuckyeah!!
Kita lihat saja nanti" Ujarku sambil bergegas meninggalkan tempat itu.
...
"Jadi, apakah aku sekarang punya kekuatan super?"
"Bisa
dibilang demikian, kau bisa mengeluarkan setiap senjata yang bisa kau bayangkan
dan menggunakannya untuk menyerang atau berlindung."
"Itu
kekuatanku? Lalu, bagaimana jika aku ingin berubah?"
"Semua bisa
kau kendalikan melalui pikiran, tapi tidak bisa bebas jika aku tidak
menyetujuinya."
"Sama saja
bohong kalau begitu, tapi untuk apa kau sebenarnya diciptakan?"
"Sebagai Inang
kau tidak boleh tahu, cukup lanjutkan hidupmu dan turuti perintahku."
Mahkluk ini
terkadang judes juga, tapi biarlah, asal ia tidak menyuruhku berbuat jahat akan
kuturuti segala perintahnya.
Sudah sepagian
ini aku menjadi tontonan kawan-kawan sekelasku, mereka meraba otok di tanganku
seakan-akan takjub sedang melihat Herkules putra Zeus, beberapa dari mereka
bertanya bagaimana aku bisa berotot seperti ini dalam sekejap.
Namun kelihatannya hanya Millina saja yang mengacuhkanku, ia masih duduk di bangkunya
dengan pandangan semu.
Ia juga tampak
kurus dibanding beberapa bulan yang lalu ketika ia baru pertama kali masuk ke
sekolah kami dan duduk di ruangan ini, ekpresinya masih sama seperti saat itu,
sepi dan suram seperti orang yang sudah kehabisan semangat, namun kini
kondisinya lah yang sedang aku khawatirkan, ia tampak sakit saat ini.
"Woy,
Arzal!!! Kau apakan tubuhmu hingga menjadi berisi begitu? Apa kau minum
obat?" Ujar Fauzy sambil menarik pundakku..
"Latihan
dong!!" Jawabku sekenanya.
"Bohong!!
Kau pasti minum obat atau semacamnya. Bilang padaku apa nama obatnya, kasih
rahasiamu Arzal!!" Paksa Fauzy.
"Tidak mau.
ini rahasiaku, apa rahasiamu?" Ujarku sambil meniru sebuah kalimat di
iklan TV.
Fauzy pun
menggunakan berbagai cara untuk memaksaku untuk berbicara. Namun gerak-gerik
aneh Millina menarik perhatianku, ia kini sedang menggigit jari manisnya dengan
raut cemas di wajahnya. Apa yang mengganggunya saat ini?
...
Bel pulang
terdengar merdu di telingaku, seperti suara terompet kejutan yang berbunyi
panjang sambil diikuti suara sorak sorai gembira dari semua murid di tiap kelas
sekolah ini. Namun aku melihat Millina berjalan tergesa-gesa menerobos
kerumunan murid yang berjalan satu arah. Aku mencoba mengikutinya dari belakang
dan menjaga jarak ketika ia berhenti dan melirik kesegala arah dan kemudian
berjalan cepat lagi menuju pintu gerbang.
Hingga akhirnya
seorang pria paruh baya berdiri di hadapannya, Millina tampak terkejut ketika
pria itu mulai berbicara kepadanya, hingga akhirnya segerombolan murid
menghalangi pandanganku, tidak sampai satu menit kini Millina sudah hilang di
depan sana. Mungkin pria tadi adalah sanak keluarganya yang mau menjemputnya.
...
Besoknya, Millina
tidak hadir ke sekolah. Tidak ada surat sakit atau pemberitahuan dari orang
tuanya pagi itu, di antara kami semua tidak ada yang tahu bagaimana keadaan
Millina. Namun kawan sebangkunya berkata kepadaku agar tidak perlu khawatir,
bukankah sudah biasa jika seorang murid absen tanpa keterangan.
Tapi aku perlu memeriksanya,
aku perlu memastikan ia baik-baik saja.
Dari jauh aku
mendengar kegaduhan dari rumah Millina, terdengar suara pria berteriak memaki,
selain itu juga terdengar suara wanita menangis di sana. Sesuatu terjadi di
sana, keluarga Millina sedang mengalami sebuah masalah. Aku mencoba sesopan
mungkin ketika memasuki medan tempur kecil itu, dari luar rumah aku mengucapkan
salam beberapa kali namun tampaknya tidak ada yang mendengar suaraku bahkan
suara ayah Millina makin kencang saja. Di ruang tamu itu tampak ibu Millina
sedang duduk sambil memeluk foto Millina.
"Kamu
siapa?" Ujar ibu Millina sambil tersenyum kecil walau mukanya merah.
"Maaf
mengganggu, saya Azral fahreza. Saya teman sekelasnya Millina."
Mendengar
kalimatku ibu Millina langsung berdiri dari kursi dan berlari kecil ke
kamarnya. di ruang tamu ini hanya tinggal aku dan ayah Millina yang tersisa.
"Pulanglah
nak, Millina sedang tidak ada di rumah." Ujar pria tambun itu sambil
beranjak menyusul istrinya.
Aku menahan pria
itu pergi meninggalkanku, aku menyentuh selembut mungkin pundaknya agar emosi
yang meluap-luap di dadanya itu tidak menyambarku. Namun kelihatannya aku
salah, matanya langsung melotot ketika ia berbalik menghadapku, aku bisa
merasakan ada api kasat mata dari dadanya yang perlahan keluar dari pundaknya,
moodnya sedang tidak bagus, aku bisa saja dihajarnya saat itu.
Namun ekpresinya
berubah seketika menjadi ketakukan, ia terjatuh tepat di depanku walau aku
tidak melakukan apa-apa. Kini keringat dingin mengalir di dahinya, tidak ada
siapa-siapa saat itu. Hanya aku saja yang berdiri di depannya.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar