"Maafkan aku, anak muda. Tolong jangan bunuh aku" rengeknya.
Aku baru menyadari sesuatu ketika aku melihat warna merah dan hitam di seluruh tanganku, benda aneh itu bereaksi terhadap suasana hatiku, ia merespon ketika aku merasa ketakutan atau terpojok. Apa yang pria itu lihat sekarang adalah seorang monster bermata biru.
"Katakan apa yang terjadi dengan Millina!!" Ujarku setengah membentak.
"Ia diculik oleh sekawanan mafia kemaren siang." Ujar pria itu yang masih dalam keadaan syok. "Dan itu sebenarnya adalah salahku karena membuat masalah dengan kelompok bajingan itu"
"Apa maksudmu?"
"Beberapa bulan yang aku meminjam uang dari mereka, jumlahnya lumayan besar dan bahkan semua barang di rumah ini tidak mampu membayar hutang itu, jadi mereka mengambil putriku sebagai jaminannya dan jika tidak dilunasi dalam waktu 48 jam maka Millina akan dikirim keluar pulau dan dijual sebagai budak"
Aku menarik baju pria itu sekuat mungkin dan meremasnya, aku tidak suka kalimat budak yang disebutkan orang ini. Millina sedang dalam bahaya dan kerjaan pria ini hanya melampiaskan kekesalannya kepada istrinya yang tidak bersalah.
"Katakan di mana Millina disekap, jika kau tidak bisa menangani masalahmu, biar aku saja yang melakukannya!!!"
...
Sebuah gudang tua di pelabuhan memang pantas menjadi sarang bajingan-bajingan ini. Di depan sana puluhan pria urakan bernyanyi dan berbicara kotor, mereka tidak sadar bahwa bahaya sedang mengincar mereka. Aku akan merebut Millina walau tanganku harus berdarah.
"Apa armorku cukup tebal untuk menahan tikaman pisau dari puluhan orang?"
"Tidak ada yang bisa menembusku, aku sekeras berlian." Ujar benda ini menyombongkan diri.
"Baguslah....."
Aku berdiri tepat di bawah sebuah lampu temaram di depan sebuah pintu, sementara dinginnya malam membuat nafasku beruap, aneh memang jika sebuah topeng baja yang menutupi seluruh wajahku masih memperbolehkan aku bernafas seperti biasa. Cahaya dari lampu ini seakan-akan menyelimutiku dengan warnanya yang lembut, membuat keberadaanku lebih misterius seperti pembunuh bayaran yang bergerak dalam bayangan.
"Hei!! Siapa di sana?! Jika kau masuk ke tempat ini tanpa ijin kau akan mati!!!" Ujar seorang berandalan yang akhirnya menyadari keberadaanku.
"Kau yang akan mati, tidak, kalian semua yang akan mati!!" Ujarku sekeren mungkin walau aku hanya berbohong akan membunuh mereka.
Suaraku cukup keras saat itu, aku seakan-akan daging segar bagi sekawanan hyena di film "Lion King" yang kelaparan, mereka keluar dari tempat mereka yang gelap dan berjalan kearahku sambil memegang satu atau dua senjata di tangan mereka, sedikitnya ada 20 orang yang sedang berjalan menuju ke arahku.
"Kenapa? Apa kalian terlalu takut untuk berlari kearahku?"
Mendengar itu kini mereka tampak sangat marah, seperti atlit lari yang memperebutkan mendali emas kini mereka seperti sedang balapan untuk membunuhku duluan, salah satu dari mereka mengayunkan sebatangkayu kearahku. Namun kayu itu pecah karena armorku yang kuat.
Aku lalu melempar orang tadi ke arah teman-temannya, namun hal tak terduga terjadi tubuhku bergerak sendiri dan muncul sebilah pisau dari ujung jariku, kini cakarku setajam pisau walau aku tidak pernah membayangkannya. Seorang pria datang lagi dan menyerangku saat aku masih bingung karena tubuhku yang bergerak sendiri.
Namun kini aku benar-benar merasakannya, tangan kananku bergerak sendiri dengan cepat dan menembus dada pria tadi. Aku membunuh, tidak, benda inilah yang membunuh dengan menggunakan jariku. Aku tidak mampu menahan tubuhku ketika dua orang lagi datang dan menyerangku, semua mati di bawah kakiku sementara yang lain memandang ngeri diriku, seorang monster, itulah aku sekarang.
"Apa yang kau lakukan!! Aku tidak ingin membunuh orang-orang ini, yang tadi itu hanya bercanda!!"
"Ancaman terdeteksi"
"Bagaimana mungkin armor sekuat berlian ini menjadi ancaman bagi senjata murahan!!"
"Ancaman terdeteksi"
"Itu saja yang hanya bisa katakan, hah?!"
Aku sadar hanya tanganku saja yang tidak bisa dikendalikan sementara tubuh bagian lain masih bisa aku kontrol seperti biasa. Aku pun mulai berlari ke arah gudang, aku datang ke sini hanya untuk menolong Millina, jadi itu prioritasku sekarang. Namun setiap ruangan di dalam gudang itu kosong, hanya suara tikus dan kesunyian malam yang ada di sana.
Aku pun berlari keluar dan mencari salah satu berandalan yang masih ada di tempat itu setelah aku mendengar salah satu dari mereka berteriak kabur.
"Tolong jangan bunuh siapa-siapa dulu, aku ingin mencari informasi dari salah seorang berandalan ini"
"Baiklah...."
Tidak jauh dari posisi mayat yang habis dibantai "benda" ini, aku melihat seorang pria kurus sedang sembunyi di balik sebuah drum, ia beku dalam ketakutannya di sana.
"Hey kau!! Di mana kalian menyembunyikan Millina!!"
Ia berbalik dan menatapku, wajahnya sangat pucat saat ini.
"Jawab!!" Bentakku.
"Tolong jangan bunuh aku, mungkin yang kau maksud adalah gadis muda yang membuat bos kami tertarik, saat ini gadis itu sedang berada di markas besar kami. Bos ingin menjadikan gadis itu sebagai koleksinya."
"Aku tidak akan memaafkan kal--" aku belum menyelesaikan kalimatku saat kepala pria itu ditembus oleh pedang di jariku, benda ini benar-benar haus akan darah.
"Aku belum selesai bodoh!!! Kita belum tahu pasti di mana markas mereka!!"
"Dia sudah bicara, itu sudah cukup"
"Apanya yang sudah cukup!!! Kau membuat aku menjadi monster, sudah puaskah kau memanfaatkan aku!!"
"Belum, selama misimu belum selesai aku belum puas."
"Apanya yang misi?! Kita saja gagal melacak di mana keberadaan Millina, memangnya apa misimu, hah!!"
"Membunuh seorang Merchant, orang yang menciptakanku dengan membuat kontrak dengan raja alam bawah"
"Kau ingin membunuh penciptamu? Kemudian apa? Membunuhku?"
"Tidak, kau tidak ada hubungannya dengan ini. Aku hanya akan memanfaatkan tubuhmu saja."
"Lalu selanjutnya bagaimana? Apa kau akan membantuku menolong Millina?"
"Jangan khawatir, aku sudah tahu di mana pacarmu itu berada sekarang."
"Pacar? Ah, terserah kau saja. Kalau begitu ayo kita tolong Millina"
...
Di bawahku tampak hingar-bingar lampu kota, melihat kota ini dari atas memberiku pandangan lain tentang kota yang selalu memiliki seribu macam masalah, di mataku kota ini sedang menuju kegelepan. Di kota ini juga seorang pahlawan terbunuh. Generasiku hanya tahu sedikit informasi tentang pahlawan itu, saat itu bahkan aku belum paham sebenarnya apa yang terjadi di kota ini. Mereka bilang kerusuhan antar suku itu telah menghapus masa depan kami, namun seorang pria datang menengahi perang mengerikan itu.
Namun perasaan kagum terhadap pahlawan itu memudar ketika mereka mulai sibuk sendiri dengan rutinitas mereka. Hanya sebuah monumen sederhana yang dijadikan pengingat untuk pahlawan perkasa itu. "Bundaran Burung" sebuah monumen perdamaian atas berdamainya kedua suku yang berperang saat itu.
"Jadi, apa kita punya rencana?"
"Tidak ada, masuk dan hancurkan. Itu saja"
"Maksudmu masuk, cari, dan hancurkan, kan?"
"Iya"
"Aku masih belum tahu bagaimana cara memanggilmu?"
"Kau hanya perlu membayangkan saja, maka kau bisa langsung berubah."
"Bukan, kau perlu nama. Bagaimana kalau Amor?"
"Terserah kau saja"
Entah kenapa Amor bukanlah "benda" biasa, ia seakan-akan makhluk hidup yang bisa berpikir dan mungkin juga memiliki perasaan, berbeda dengan pelayan pribadi Iron-man yang selalu menuruti tuannya.
"Kita bisa menyerang sekarang, dalam waktu beberapa detik lagi pembangkit listrik di gedung ini akan mati." Ujar Amor yang dari tadi terus memunculkan angka di depan mataku.
"Kira-kira Millina ada di lantai berapa?"
Amor tidak menjawab pertanyaanku, mungkin ia cemburu karena aku akan menolong Millina.
"Kau bisa menyerang sekarang" tepat di akhir kalimat Amor, seluruh lampu bangunan di depanku langsung padam. Kini markas besar mafia brengsek ini akan hancur lebur.
Aku meloncat menerjang kaca salah satu jendela, di sana sudah terdengar kepanikan di seantero lantai. Kelihatannya Amor punya penglihatan malam versinya sendiri yaitu penglihatan yang di gunakan bukan melalui mata melainkan melalui kulit, aku bisa menerjemahkan setiap getaran suara menjadi wujud sementara benda atau mahkluk yang menghasilkannya.
Nampak beberapa orang tengah berwaspada di depan sana, aku hanya perlu sedikit gerakan saja untuk menjatuhkan mereka, namun prioritasku sekarang adalah Millina, bukan membantai semua orang-orang ini. Aku lalu berlari menaiki tangga di kegelapan, berharap Millina ada tepat di atasku walau kemungkinannya kecil karena gedung ini lumayan besar dan terdiri dari Lima lantai sementara aku baru berada di lantai dua.
Puluhan orang menghadang ketika aku melewati lantai dua dan tiga namun semuanya bukan halangan yang berarti ketika aku berlari di antara bayangan, mereka tidak bisa melihatku secara jelas, peluru pistol mereka beterbangan tak menentu melewatiku. Namun ketika tiba di lantai 4 pembangkit listrik di gedung ini akhirnya menyala, mereka bisa melihatku dengan jelas sekarang.
Tapi aku tidak berhenti berlari walau halangan di depanku semakin berat, meski banyak tembakan yang diarahkan kepadaku namun hanya setengahnya saja yang berhasil mengenaiku dan semuanya berhasil ditahan oleh tebalnya armor yang menutupi seluruh tubuhku. Hingga akhirnya aku sampai di lantai kelima sesuatu yang aneh terjadi, lantai lima hanya sebuah aula besar yang gelap sementara lantai lain di bawahnya sudah terang.
Seseorang sedang menyiapkan perangkap untuk kami, itu pasti.
Amor secara otomatis mengaktifkan kembali penglihatan malamnya, pertama aku hanya mendengar suara langkah kaki dari puluhan orang yang jumlahnya terus bertambah hingga akhirnya aku merasakan hawa yang aneh, membekukan namun sekaligus ngeri sedang memperhatikanku. Sebuah sosok sedang berdiri di depan sana.
"Kau berani juga merangsek masuk kedalam rumahku, anak muda" Ujar sosok itu dengan nada suara yang ganjil. "Apa kau kemari untuk mengembalikan pusaka itu?"
"Bukan, aku kesini untuk menolong kawanku. Namanya Millina, gadis yang kau culik atas dosa ayahnya."
"Oh, sayang sekali. Aku kira kita bisa bertransaksi agar sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Apa yang kau maksud?!"
"Benda yang kau pakai itu, adalah milik nenek moyang kami. Beratus-ratus tahun kami menjaganya agar tidak jatuh ketangan orang yang bukan dari silsilah keluarga kami. Pernahkah kau mendengar nama sekelompok pedagang yang di sebut sebagai muka dua?"
"Aku tidak paham apa yang sedang kau bicarakan"
"Kau tidak perlu paham, cukup kembalikan benda itu maka kau akan tetap hidup untuk besok."
"Meh.... Kau kira aku mau mengembalikannya?"
Sosok itu kemudian terdiam, aku pasti sudah membuatnya marah saat ini.
"Kalian boleh bersenang-senang sekarang anak-anak, malam ini milik kalian." Ujar sosok itu menghilang dari balik pintu dan tepat ketika pintu itu tertutup ruangan ini kemudian menjadi terang.
Aku medengar suara kokang senjata di tarik di sekelilingku, mereka mengarahkan senjata mereka keseluruh tubuhku. Tubuhku mulai bergetar hebat ketika ratusan peluru mengenaiku, aku tidak bisa menebak jenis peluru apa yang menghujaniku sekarang, namun sekalipun roket dari senjata terberat ditembakan mengenaiku, Amor masih tetap kuat tanpa satu goresanpun.
Aku ingin saja sebenarnya berlama-lama di sini sambil terus menyombongkan kekuatan Amor, tapi itu bukan gayaku. Toh, menghadapi mereka juga sama saja dengan membuang waktu, mungkin jika aku segera pergi dari sini Millina masih bisa terkejar. Lalu aku pun berlari sementara nampaknya para pecundang yang tadi menembakiku malah terkejut karena aku mulai bergerak.
Aku masih bisa mendengar suara salah satu dari mereka meneriakan sumpah serapah karena aku masih hidup di antara bisingnya suara peluru yang berterbangan tak karuan, aku terus berlari menuju ke arah sebuah tembok yang kelihatannya kokoh dengan harapan bisa menerobosnya.
Benar dugaanku, tembok itu bukan apa-apa. Aku menembusnya seperti istana pasir, tapi aku lupa jika aku sedang berada lantai 5 gedung ini. Aku pun terjun bebas berharap Amor punya mode terbang.
“Hei!! Amor, apa kau punya mode terbang?” Ujarku penuh harap.
“Tidak” Ujarnya acuh.
Tubuhku pun terhempas di tanah yang keras, entah kenapa rasanya kepala pusing setelah itu, mungkin entah benturan atau apa, tiba-tiba semuanya gelap....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar