Aku terbangun di sebuah ruangan, beberapa saat kemudian aku sadar kalau aku sedang berada di kamarku sendiri. Tapi aneh, aku hanya bisa melihat warna hitam dan putih sementara asap kecoklatan melayang di setiap sudut kamarku. Tidak ada suara sama sekali, sunyi seolah-olah aku berada di ruang hampa.
“ARZAL!! KELUARLAH, KAU ADA DI DALAM KAN!!” Ujar suara berat dari balik pintu kamarku.
Suaranya tak kukenal, bahkan aku ragu jika suara itu berasal dari manusia. Suara itu terdengar berat dan sedikit bergema.
“Siapa?! Pergilah, aku tidak ingin diganggu!!” Ujarku nyaring.
Siapapun dibalik pintu itu, kini ia terdiam. Sunyi kembali kurasakan tapi tak berapa lama pintu kamarku diketok nyaring dari luar sana, tidak ada suara orang itu lagi, hanya ketokan yang memekakan telinga.
Aku sedikit marah saat itu dan ingin segera melihat siapa orang dibalik pintu itu, tapi ketika aku memegang gagang pintu itu, aku mendengar suara lain, kali ini datangnya dari kepalaku sendiri, tapi entah kenapa tanganku tak bisa berhenti untuk tidak membuka pintu tersebut.
“JANGAN BUKA PINTU ITU, ARZAL!!!” Ujar suara itu semakin nyaring bergema dikepalaku.
Ada sedikit cahaya menyilaukan ketika aku membuka pintu tersebut, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa dibaliknya, hanya ada kota yang terbakar. Langit memerah sambil diiringi suara teriakan entah dari mana, bukan satu atau dua suara yang kudengar, tapi mungkin ratusan, beberapa terdengar seperti minta tolong, tapi beberapa lagi terdengar seperti tawa.





