Sabtu, 27 Juli 2013

Red Merchant part 03

             Aku terbangun di sebuah ruangan, beberapa saat kemudian aku sadar kalau aku sedang berada di kamarku sendiri. Tapi aneh, aku hanya bisa melihat warna hitam dan putih sementara asap kecoklatan melayang di setiap sudut kamarku. Tidak ada suara sama sekali, sunyi seolah-olah aku berada di ruang hampa.

“ARZAL!! KELUARLAH, KAU ADA DI DALAM KAN!!” Ujar suara berat dari balik pintu kamarku.

            Suaranya tak kukenal, bahkan aku ragu jika suara itu berasal dari manusia. Suara itu terdengar berat dan sedikit bergema.

“Siapa?! Pergilah, aku tidak ingin diganggu!!” Ujarku nyaring.

            Siapapun dibalik pintu itu, kini ia terdiam. Sunyi kembali kurasakan tapi tak berapa lama pintu kamarku diketok nyaring dari luar sana, tidak ada suara orang itu lagi, hanya ketokan yang memekakan telinga.

            Aku sedikit marah saat itu dan ingin segera melihat siapa orang dibalik pintu itu, tapi ketika aku memegang gagang pintu itu, aku mendengar suara lain, kali ini datangnya dari kepalaku sendiri, tapi entah kenapa tanganku tak bisa berhenti untuk tidak membuka pintu tersebut.

“JANGAN BUKA PINTU ITU, ARZAL!!!” Ujar suara itu semakin nyaring bergema dikepalaku.

            Ada sedikit cahaya menyilaukan ketika aku membuka pintu tersebut, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa dibaliknya, hanya ada kota yang terbakar. Langit memerah sambil diiringi suara teriakan entah dari mana, bukan satu atau dua suara yang kudengar, tapi mungkin ratusan, beberapa terdengar seperti minta tolong, tapi beberapa lagi terdengar seperti tawa.


            Di depanku berdiri seseorang yang sosoknya tersamarkan, ada semacam hawa hitam menutupi seluruh tubuhnya. Sosok itu hanya diam, tak bergerak bahkan bersuara hingga kemudian ia berbisik.
“Bebaskan. Aku.”
...

            Aku terbangun di sebuah ruangan gelap dan dingin, kepalaku masih pusing namun tubuhku tak bisa digerakan. Seseorang mengikat tanganku, aku mencoba memanggil Amor namun tak ada respon. Apa mungkin seseorang mencabutnya? Atau ia rusak pada saat aku terjatuh sebelum ini? Aku kalut dalam kebingungan.

“Tidak, kami belum mengambilnya” Ujar suara yang entah muncul dari mana. “ kau pasti bingung kenapa kau bisa pingsan? Kami yang menciptakan pusaka itu, tentu saja kami tahu titik kelemahannya dan sudah pasti ada alat untuk menangkalnya jika pusaka itu jatuh ke tangan yang bukan dari garis keturunan kami.”

            Ia berhenti berbicara, ada semacam jeda agar ceritanya terdengar dramatis. Benar-benar pendongeng sejati.

“aku tahu kau tidak mengerti apa-apa tentang pusaka itu, kau hanya bocah ingusan yang bermain-main dan menganggap dirinya pahlawan. Pusaka itu diciptakan bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk memusnahkan. Ada dendam di dalam benda itu, dendam yang bahkan lebih jahat dari segala kejahatan mana pun. Kau tahu siapa orang yang sangat ingin dibunuh pusaka itu? Tentu saja aku, aku yang menciptakannya dari jiwa seseorang yang sangat membenciku”


“Bebaskan Millina, ia tidak ada urusan dengan orang sepertimu!!” bentakku.

“siapa bilang? Aku bisa saja menjadikannya simpananku. Kau tahu lah, untuk bersenang-senang.”

“Brengsek, kalau kau berani lepaskan tali ini dan bertarunglah denganku, pengecut!!”

“Bodoh, kau sudah tidak berdaya seperti itu mana bisa melawanku. Kau kira jika kau bertarung dan menang dariku akan mengubah keadaan? Pusaka itu tetap akan membunuhmu!”
                                                                          ...

            Sepertinya aku ditinggal sedirian di tempat ini. yah, mana mungkin ada orang lain di tempat ini, baunya begitu busuk dan lembab entah ruangan apa ini. tapi dari kejauhan aku mendengar langkah kaki, seseorang sedang berjalan ke arahku, mungkin orang ini akan menjadi dewa penolongku walau ia musuh sekalipun.

“gaah.... sialan, kenapa harus aku yang harus disuruh untuk mengurusi bocah ini. dasar senior. Bocah bangun, kau harus pindah ke ruang operasi.” Bentaknya sambil melepas ikatanku dengan kasar.
Aku yakin sekarang yang di depanku adalah orang bodoh yang tidak becus dengan kerjaannya, aku lalu menghentakan kepalaku sekeras mungkin ke arah datangnya suaranya, benda keras tepat mengenai kepalaku. Yap, orang itu langsung pingsan meski kepalaku sedikit pusing. Tidak, ini bukan sedikit tapi dasyat!

            Kepalaku pusing tak karuan belum lagi cahaya lampu yang membuatku silau karena baru saja melepaskan penutup mata, lampu itu aku rasa tidak terang, mungkin hanya karena mataku saja yang sebelumnya tidak menerima cahaya menjadi sedikit “kaget” ketika menerima cahaya dari luar.

            Perlahan rasa pusing itu menghilang namun aku harus tetap berjalan sempoyongan melewati koridor yang gelap, aku tidak tahu harus kemana, kali ini aku harus mengikuti insting walau akhirnya instingku malah mengkhianatiku, aku malah sampai ke sebuah ruangan yang penuh dengan preman, mereka belum bereaksi apa-apa, hanya diam melotot sama halnya dengan aku.

            Aku harus bertindak atau aku akan mati, tidak ada jalan lain selain menerobos kerumunan itu, di sana ada sebuah pintu yang sepertinya akan menjadi jalan keluarku. Waktu seakan berhenti sementara dentang jam semakin nyaring terdengar di semua sudut ruangan itu, aku sudah siap, bagaimanpun juga itu lah jalan keluarku walau ada 50 orang penjahat di depan sana.

“YOLO!!!!”  jeritku sambil berlari sekuat mungkin.

“Aaaaaarrrgghhh!!!” teriak para penjahat serentak berlari ke arahku.

            Aku sempat beberapa kali menyikut orang hingga akhirnya aku naik ke atas meja dan bergantung di sebuah lampu, sebenarnya aku tidak benar-benar berayun, kakiku masih sedikit berlari diantara wajah sangar.

            Lampu itu akhirnya lepas dan membuatku terjatuh namun aku jatuh pada saat yang benar-benar siap, kakiku sempat menahan badanku hingga setelah itu aku bisa langsung berlari keluar dari tempat itu, aku pun lari sekuat mungkin, entah menuju kemana.

Aku sampai di sebuah laboratorium, di sana ada dua orang dengan pakaian bedah yang sedang mempelototiku.

“Tunggu dulu, apa kau adalah anak yang dimaksud bos?” ujar salah satu dari mereka.

“ya, mungkin. Tapi niat buruk apapun yang ingin kalian lakukan kepadaku tidak akan aku maafkan.” Ujarku mengancam.

“tidak, kami tidak punya niat apa-apa. Kami hanya melakukan pekerjaan kami dan kemudian menerima gaji, itu saja. Kami dengar apa masalahmu dan karena kami tahu kalo orang yang memperkerjakan kami itu orang jahat jadi kami ingin membantumu.”

“jangan bohong, kalian tahukan aku bisa membunuh kalian dengan sadis?”

“Ya, kami tahu. kami rasa kekuatanmu itu tidak berfungsi sekarang, bos sudah menonaktifkannya, energi dalam pusaka itu sudah tidak ada.”

“energi? Maksud kalian energi mistis?”

“tidak, benda itu bukan berasal dari planet ini. yah, orang jaman dulu salah mengira kalau pusaka itu adalah benda setan, tapi itu bukan. Pusaka itu adalah benda tercanggih yang belum dimengerti.”

“semacam teknologi alien yang bergerak dan berpikir sendiri?”

“awalnya benda itu tidak bergerak sendiri, itu semacam armor yang dikenakan di badan. Namun karena takut benda itu akan dimanfaatkan orang jahat akhirnya dipasanglah semacam pembatas, tapi karena jaman itu belum ada teknologi yang menyamai kecanggihan pusaka itu akhirnya sebuah arwah seseorang dikirim dan ditugaskan untuk membatasi kekuatan pusaka itu.”

“lalu kenapa ia selalu bilang ingin membalas dendam?”

“dendam keluarga, keluarga si arwah adalah keluarga kerajaan tapi mereka dikhianati oleh seorang pedagang senjata yang menjual dagangannya ke pihak musuh. Tapi akhirnya yang memegang pusaka itu adalah si pedagang senjata, ia hanya tahu menonaktifkannya tapi tidak bisa menggunakannya.”

“semuanya masuk akal sekarang, tapi bagaimana caranya agar benda ini aktif lagi? Jika bisa aku ingin membalaskan dendan arwah ini dan menyelamatkan temanku.”

“kita harus mengisi ulang tenaganya, bos tidak tahu masalah ini, suaranya mungkin terdengar mengerikan tapi ia bodoh. Melihat dari semua peralatan ini sepertinya kita harus memakai Defibrillator, ini satu-satunya alat yang akan menghantarkan listrik langsung ke hatimu.

“tunggu, aku mungkin akan mati, berapa banyak energi yang dibutuhkan benda ini?”

“aku tidak tahu, yang pasti banyak. Tenang saja, tubuhmu sudah lebih kuat dari pada manusia biasa, kami akan memaksimalkan benda ini dan kau akan punya kekuatan itu lagi.”

“baiklah, apakah aku akan mati?”

“mungkin pingsan, tapi hanya pingsan. Kumohon percayalah.”

            Aku tidak ingin berpikir lama karena aku yakin aku akan mundur jika demikian, aku ingin percaya dengan orang ini karena memang tidak ada pilihan lain. Sepertinya ketika aku dalam keadaan seperti ini waktu terasa berhenti dan seketika ketika benda itu menyentuh dadaku. Semuanya gelap.

                                                                           ...

Aku terbangun di ruangan aneh, tepatnya dunia. Semuanya abu-abu dan ada semacam kaca yang merefleksikan sebuah peristiwa, entah itu sekarang, masa depan, dan masa lalu.

“Ini semua adalah kenangan manusia yang berhasilku rekam” ujar sebuah suara yang kukenali. “akhirnya kita bertemu, bukan suara namun wujud.”

“kau Amor? Aku kira kau hanya sebuah suara dari benda aneh.”

“maaf aku tidak pernah bilang sebelumnya, ya, inilah aku. Maaf aku memaksamu berbuat sesuatu yang kejam.”

“yah, kelihatanya aku mulai paham tentang  masalah dendam itu tapi kita harus menolong Millina segera. Hm, bagaimana keluar dari tempat ini?”

“kau akan keluar dari tempat ini segera, tapi kau akan sedirian setelah itu.”

“kenapa? Bukankah kita akan melakukannya bersama?”

“tidak, aku rasa aku bisa tenang sekarang. Aku percaya kepadamu Arzal, bahwa kau lah orang yang tepat untuk memiliki pusaka ini. terimalah dan pergunakan dengan baik, aku harus pergi sekarang.”

Sosok itu langsung pergi, aku belum tahu nama aslinya tapi setidaknya ia sudah mempercayakan benda ini kepadaku. Cahaya menyilaukan muncul dari sudut dunia ini, aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali cahaya.

            Aku tidak yakin sudah membuka mata atau belum, soalnya yang aku lihat hanya kegelapan. Sepertinya pemulihan tenaga tadi menghabiskan semua listrik di gedung ini atau mungkin kota ini, entahlah. Hingga beberapa saat kemudian lampu darurat dihidupkan, aku tidak bisa menggunakan penglihatan dalam gelap melalu versi armor ini. aku butuh suara untuk mendeteksi benda di sekitarku.

            Aku melihat sebuah surat yang sepertinya ditulis oleh orang yang menolongku tadi, di situ ada alamat dan kelihatannya ia memintaku untuk mengunjungi rumahnya. Masa bodoh, Millina dulu baru cari teman. Aku tidak tahu Millina ada di lantai berapa tapi sepertinya aku harus lantai kr paling atas dan berharap di sana ada penthouse “orang itu”.

            Ketika aku berjalan menuju tangga darurat tiba-tiba listrik di gedung ini stabil kembali, aku ingin menggunakan lift dengan alasan menghemat tenaga untuk pertempuran terakhir, semoga berat badanku saat menggunakan armor ini tidak jadi beban di lift nanti. Aku menyadari gedung ini mempunyai 12 lantai dari tombol-tombol yang ada di lift dan sekarang aku sedang berada di lantai dua.

Ketika aku yakin perjalananku akan mulus tapi lift malah berhenti di lantai lima, seseorang akan masuk dan mungkin akan terjadi perkelahian di sini. Tapi ternyata tidak, hanya ada pria kurus yang masuk ke lift ini.

“wow!! Bos memang punya hobi yang aneh, gila sampai majang patung robot segede gini di dalam lift. Tapi kaya beneran bro”

“tolong jangan gores catnya, ini masih baru” ujarku setenang mungkin.

“oh, maaf, saya kira patung. Maaf” mukanya jadi lucu.

“jadi, mau ke lantai berapa?” tanyaku sok akrab.

“sebelas. Ngomong-ngomong kostum robotnya sama kaya Spider-man, sama-sama merah.”

“iya, memang terinspirasi sih.”

“ saya fans besar Spidey, saya suka musuh Spider-man itu yang namanya Electro-man, soalnya kekuatannya petir.”

            Aku tidak suka tipe orang yang seperti ini, hanya tahu karakter komik dari serial animasi dan film live actionnya saja. Siapa Electro-man? Namanya itu cukup Elektro saja, jangan kira semua yang punya kekuatan super itu ada “man” dibelakangnya. Ah sudah lah, seperti aku tidak tahu negeriku saja.

            Ia pun keluar ketika sudah sudah di lantai sebelas sementara aku tetap melanjutkan perjalanan. Tapi ketika aku baru saja sampai dan pintu lift terbuka tiba-tiba ada sesuatu meluncur ke arahku, aku tidak sempat menghindar tapi peluru bazooka itu menghantamku menebus tembok, ledakannya lumayan kuat, tapi armorku mampu menahannya.

            Aku tahu di seberang sana sang Merchant sedang menunggu. Aku tidak tahu sebenarnya ia kuat karena mempunyai pusaka lain atau ia hanya mengandalkan senjata seadanya saja. Karena api dari ledakan tadi seluruh ruangan kini sedang dihujani air untuk mengantisipasi kebakaran, menciptakan ruangan yang sedikit berkabut dan mengaburkan padangan.

            Jika aku beruntung, aku bisa  menyerang sang Merchant secara diam-diam. Tepat sekali, setelah berjalan memutari tempat lift yang terbakar aku bisa melihat ia sedang membelakangiku dengan waspada. Akibat suara air keberadaanku tak terdengar, namun aku melihat sebuah gelang aneh yang menyala di tangannya.

            Aku yakin itu adalah pusaka lain yang ia miliki. Aku harus merebut dan mengamankannya terlebih dahulu. Ia tersentak terkejut ketika aku menarik tangannya dan langsung merebut gelang itu, mukanya langsung pucat, aku kira akan bertarung sengit  dengan orang ini. Kalau begitu aku bisa membalaskan dendam Amor dengan mudah.

“sekarang, Di mana Millina?!”

“tidak akan kuberi tahu dan jangan kira ini sudah selesai, kami akan menghacurkanmu!!”

            Kemudian ia melarikan diri, aku sekarang yakin kalau sebenarnya orang ini memang lemah atau mungkin ada sesuatu di belakang ini semua? Masa bodoh, yang penting aku harus menyelamatkan Millina dulu dan segera keluar dari tempat ini.

            Aku memindai seluruh isi ruangan, aku melihat sebuah ruangan dari balik sebuah lemari kayu. Sebuah pintu terlihat ketika aku menggeserkan lemari tersebut dan akhirnya aku bisa melihat wajah Millina yang memerah karena kelihatannya habis menangis. Namun ia terlihat ketakutan ketika melihat kedatanganku.

            Aku mencoba menenangkannya dan menjelaskan tujuanku, aku tidak memberi tahu siapa diriku bahkan setelah aku mengatarnya pulang. Aku berharap kejadian ini tidak memperngaruhi hidupnya, aku sempat memperingati ayahnya untuk berhenti melakukan kesalahannya dan fokus untuk menafkahi keluarganya.

            Semuanya sudah selesai, Millina sudah kembali ke keluarganya dan sang Merchant yang lemah itu sudah kukalahkan. Aku mungkin tidak membunuhnya tapi aku mengambil kekuatannya, setelah ini aku berpikiran untuk menemui seorang dokter yang mengembalikan kekuatanku, entahlah aku tidak yakin ia sebenarnya adalah seorang dokter bedah atau seorang profesor karena pertemuan kami yang singkat.

            Aku bertanya banyak dan berkenalan dengannya. Namanya adalah Praji setiawan, Profesor sekaligus arkeolog, ia juga senang dengan hal-hal yang berbau Extra Terestrial. Dari dia aku tahu bahwa masih banyak pusaka-pusaka sejenis yang mempunyai kekuatan yang berbeda-beda.

“Kau tahu, kekuatan dari pusaka yang di miliki Prabowo ini adalah menambahkan kekuatan pada benturan dan ledakan. Ia menggunakan senjata api dan semacamnya dengan daya ledak yang diluar batas normal.”

Prabowo adalah nama asli dari sang Merchant, aku tidak tahu sebelumnya nama orang ini.
“benarkah, apakah selain aku dan Prabowo masih ada pengguna pusaka lain di luar sana?”

“tentu saja, Birdwar adalah salah satunya. Ia menggunakan sebuah pusaka berbentuk sarung tangan, kekuatan dari pusaka itu adalah menguasai gravitasi.”

“apakah hanya itu saja? Atau ada orang jahatnya juga?”

“tentu saja, namun mereka enggan untuk menggunakannya, mereka lebih senang menggunakan otaknya dan menyerang dari dalam.”

“Menyerang dari dalam?”

“menghancurkan negeri ini dengan cara menggerogotinya dari dalam, kau mungkin tidak tahu tapi sebenarnya mereka sudah mengambil alih apa yang kita punya, hanya saja mereka tetap melakukan kejahantannya dengan pelan dan lembut, lagipula kekuasaan yang mereka miliki jauh lebih besar”

“kekuasaan? Apakah maksudmu mereka mengendalikan pemerintah?”

“bukan mengendalikan, tapi mereka lah pemerintah.”

            Kemudian setelah pembicaraan kami aku terus termenung dengan kenyataan yang baru aku ketahui. Negeri ini butuh pahlawan, tapi satu-satunya pahlawan negeri ini sudah tiada. Aku teringat perkataan seorang teman lama yang sudah tua, ia hanyalah seorang tukang bubur yang hidup sendirian, anak istrinya meninggalkannya karena suatu sebab. Tapi senyumnya tetap berkembang walau masalah hidupnya sangat berat.

Ia berkata, manusia akan akan terus meminta bantuan walau mereka sebenarnya bisa membantu orang lain, tapi terkadang kita terlalu malas untuk memikirkannya dan lebih memilih untuk diam dan mengeluh.

Pria itu telah tiada, ia akhirnya malah bunuh diri. Aku tahu siapa dia sebenarnya, ia pernah bilang kepadaku namun aku tak percaya.

            Aku rasa aku telah menetapkan jalanku, aku bisa jadi Birdwar selanjutnya dan bertarung dengan kejahatan. Tapi aku tidak ingin jadi Birdwar, aku memilih untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih baru. Aku ingin namaku lebih mengerikan bagi kejahatan, aku memilih Red Merchant.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar